Rudi dan Rudy

Kabar Baik dari Batam

Rudi dan Rudy

3 min read

Pagi hari, sekitar tahun 2007 ponsel saya berdering. Seorang tokoh partai PKB menyapa dari jauh, mengajak ketemu ke rumah makan Padang Sari Bundo, “Pak Nyat mau mengenalkan anggota baru PKB,” ajaknya.

“Pak Nyat” yang dia maksud adalah Nyat Kadir, mantan walikota Batam periode 2001 hingga 2005, kini dia menjadi anggota DPR RI Fraksi Nasdem (sejak 1 Oktober 2014).

Pertemuan ditaja di ruang VIP, lantai 2 rumah makan khas Minang itu. Di sana kemudian Nyat Kadir mengenalkan sosok baru yang akan terjun ke kancah politik, seraya meminta lelaki itu mengenalkan diri.

Yang dimaksud pun bicara, agak terbata. Penampilannya bersahaja dengan model rambut belah tengah.

Setelah pertemuan ini, lelaki tersebut kerap mendampingi Nyat Kadir untuk tampil di acara-acara partai.

Karir politiknya pun melejit cepat. Hingga akhirnya terpilih sebagai ketua partai, lanjut kemudian berhasil duduk di kursi DPRD Batam.

Suksesnya kian tak terbendung ketika berhasil terpilih sebagai Wakil Walikota Batam mendampingi Ahmad Dahlan (1 Maret 2011- 1 Maret 2016) dan puncaknya menjadi Walikota Batam ke 3, periode 2016 – 2021.

Lelaki tersebut adalah Muhammad Rudi SE.

Setelah menjadi Walikota Batam, gebrakan yang dilakukan Rudi adalah mengubah disain kota Batam menjadi lebih fokus ke Pariwisata.

“Pembangunan yang saya lakukan bukannya ingin mengubah total konsep Batam yang ditanamkan pak Habibie dulu, yakni sebagai kota industri, alihkapal, perdagangan dan jasa. Namun di tengah kondisi ekonomi saat ini, hanya pariwisata yang bisa membuat kita cepat pulih,” terang Rudi.

Sekadar diketahui, Batam dulu dibangun dengan semangat untuk menyaingi Singapura. Saat itu presiden Soeharto menugaskan “Rudy” Habibie.

Untuk bisa mengalahkan Singapura, luas Pulau Batam yang hanya 75 persen dari negara tersebut harus ditambah. Makanya dia memperluas daerahnya ke pulau lain di sekitarnya yakni Pulau Tonton, Pulau Nipah, Pulau Rempang, Pulau Galang dan Pulau Galang Baru, dengan membangun enam Jembatan Barelang.

Konsep kesatuan ekonomi secara terintegrasi ini dilakukan setelah peraih gelar Doktor Ingenieur dengan penilaian Summa Cumlaude (nilai rata-rata 10) dari Maschinenwesen, Aachen, Jerman Barat (1965) ini terinspirasi oleh Benelux (Belgia-Netherlands-Luxemburg). Dari situ, muncul pemikiran untuk menarik ekonomi perdagangan dan pariwisata dari Singapura melalui konsep โ€œTeori Balon”.

Kembali lagi ke tekad Rudi, untuk membuat Batam menjadi kota pariwisata bukan hal mudah, kota harus indah, rapi, nyaman dan aman. Karena itulah Rudi gas pol mempercantik kota. Yang paling revolusioner adalah melebarkan ruas jalan di jantung kota lengkap dengan ruas trotoar yang ramah buat pejalan kaki.

Kini kota terasa lebih lapang, bangunan tak lagi semrawut dan kumuh. Dinding-dinding bangunan kota pun dicat warna warni nan beragam dengan beberapa mural sebagai variasinya.

Dengan demikian diharapkan citra kota Batam yang ramah akan meningkat, Batam yang dulu dikenal dengan akronim Bila Anda Tiba A**** Menanti pun lambat laun sirna. Bahkan Batam yang identik dengan kota esek esek, judi dan gangster perlahan sirna.

Semoga saja langkah Rudi ini selanjutnya akan menuju ke arah pembangunan yang menjadikan Batam sebagai kota cerdas. Mengingat dunia sudah memasuki era artificial intelligence (AI).

Menurut saya, kota haruslah menginspirasi kecerdasan, dengan memiliki berbagai macam museum, galeri, pusat sains, perpustakaan yang menyenangkan, kafe, taman kota dan ruang terbuka yang menyenangkan untuk berkumpul, jaringan wifi gratis berkecepatan tinggi di seluruh kota, dan berbagai elemen lain, semisal jembatan Helix di Singapura.

Masih ada waktu. ***

Berita Lainnya

1 min read
1 min read
1 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright ยฉ Katabatam.com | Newsphere by AF themes.