Batam dalam Lintasan Sejarah Melayu (6)

Kabar Baik dari Batam

Batam dalam Lintasan Sejarah Melayu (6)

2 min read

::: Batam dalam Lintasan Sejarah Melayu (6)

  1. Ketika pasukan Aceh menyerang Johor, perang juga meluas sampai ke Biilaiig. karcna kawnsan ini pada masa itu termasuk dalam witayah Johor. Maka tidak heran apabila saat itu banyak dijumpai kuburan tentara Aceh di Bulang. 
  2. Sekitar tahun 1724, ketika teijadi perselisihan dengan orang-orang Bugis di Riau, Sultan Sulaiman Badrum Alainsyah I pernah tinggal di Bulang sebelum kemudian menyingkir ke Kampar. 
  3. Beiidahara Sri Maharaja Johor Tun Abbas mangkat di Pulau Bulang pada 1736. Jasadnya kemudian dibawa ke Hulu Riau dan dimakainkan di sana. Ini menandakan, pada masa itu Pulau Bulang sudah menjadi permukiman keluarga para bangsawan. 
  4. Pada 1757 Tun Abdul Jamal ditabalkan sebagai Temenggung dan kelak pusat pemerintahannya berada di Pulau Bulang. 

Temenggung Abdul Jamal adalah putra Tun Abbas. Sedangkan Tun Abbas adalah putra Sultan Abdul Jalil Riayat Syali yang memerintah Kemaharajaan Melayu yang berpusat di Johor tahun 1699-1719. 

Tun Abbas adik-beradik dengan Sultan Sulaiman Badrum Alamsyah I yang memeriiitah Kemaharajaan Melayu yang meliputi Riau, Johor, Lingga, dan Pahang Serta Seluruh Daerah Taklukannya pada 1722-1760. 

Di bawah pemerintahan adiknya Sultan Sulaiman, Tun Abbas menjabat sebagai Bendahara Sri Maharaja sekaligus Datuk Temenggung. Setelah ayahandanya Tun Abbas mangkat, jabatan temenggung diemban Temenggung Abdul Jamal. Sedangkan jabatan Bendahara Sri Maharaja dipegang oleh anak Tun Abas yang lain bernama Tun Abdul Majid. 

Semasa pemerintahan Sultan Mahmud Riayat Syah III, Tun Abdul Majicl dan Tun Abdul Jamal ikut menandatangani peijanjian dengan Belanda pada 10 November 1784 di atas kapal perang Belaiida Utrecht, menyiisul kekalahan Raja Haji Fisabilillah dalam Perang Riau yang berlangsung tahun 1782-1784. Ketika Sultan Malimud memindahkan pusat pemerintahan ke Lingga dan orang-orang istana meninggalkan Riau pada 1787, Temenggiing Abdul Jamal berundur ke Pulau Bulang. Di sinilah beliau bermukim dan memerintah sebagai temenggun sampai akhir hayatnya. 

Dari pernikahannya dengan Raja Maimiinah putri Daeng Paranlt Temenggung Abdul Jamal memiliki lima orang anak, dua perempuan dan tiga lelaki. Anak-anaknya yang perempuan adalah Endk Puan Ke’ oil dan Encik Puan Bonda Raja. Anak lelakinya yaitu Tun Ibrahim. ***

(Bersambung)

Disadur dari buku “Sejarah Melayu”

Karya: Ahmad Dahlan, PhD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © Katabatam.com | Newsphere by AF themes.