Inilah Sultan Mahmud Riayat Syah yang Diabadikan Menjadi Nama Masjid Agung II Batam

Kabar Baik dari Batam

Inilah Sultan Mahmud Riayat Syah yang Diabadikan Menjadi Nama Masjid Agung II Batam

2 min read

Walikota Batam H Muhammad Rudi (HMR) membangun masjid terbesar se Sumatera. Namanya Masjid Agung Sultan Mahmud Riayat Syah. Lokasinya di Tanjunguncang, Batuaji dan akan diresmikan Jumat, 20 September 2019 bersama 70 ribu undangan.

Siapakah Sultan Mahmud Riayat Syah? Kenapa namanya disematkan pada masjid dengan perpaduan arsitektur Arab, Melayu dan Turki ini?

Sultan Mahmud Riayat Syah atau dikenal juga dengan nama Sultan Mahmud Syah III dilantik menjadi sultan di usia yang sangat belia. Saat itu, masih berusia dua tahun di tahun 1761 Masehi.

Ia merupakan tokoh yang sangat disegani di tanah Melayu terutama di Kepri. Sultan Mahmud Riayat Syah adalah pemimpin Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Kisah kepahlawanannya yang begitu tersohor adalah perlawanannya terhadap pasukan Belanda di Tanjungpinang.

Dalam buku Sultan Mahmud Riayat Syah: Berhijrah ke Lingga demi Kelangsungan Perjuangan, karangan Abdul Malik, Abdul Malik, Dosen Universitas Maritim Raja Ali Haji (Umrah), mengutip cerita E.Netscher, residen Belanda di Riau (1861-1870) dalam bukunya De Nederlanders in Djohor en Siak 1602 tot 1865, Sultan Mahmud Riayatsyah melakukan penyerangan tahun 1787.

Kala itu tanggal 13 Mei 1787, pasukan Sultan Mahmud Riayat Syah menyusup ke selatan Terusan Riau melalui Penyengat dan Senggarang.

Saat malam tiba, pasukan Sultan mulai terlihat dari benteng kecil di bukit. Tidak lama kemudian pasukan Sultan maju dari arah gunung merapat ke pencalang atau kapal besar yang mengangkut barang dagangan sehingga pertempuran dahsyat terjadi.

Akibat dari serangan itu banyak pasukan Belanda yang melarikan diri. Bahkan, seorang residen Belanda di Tanjungpinang kala itu, David Ruhde, melarikan diri ke Malaka.

Mengetahui armadanya dibuat tidak berdaya, Belanda kembali menyerang Tanjungpinang dengan angkatan perang yang lebih banyak di bawah pimpinan Pieter Jacob van Braam.

Namun sekali lagi, Belanda harus pulang dengan tangan kosong. Hal ini lantaran pasukan Belanda tidak menemui Sultan beserta rakyatnya di pusat kesultanan di Pulau Bintan.

Sultan Mahmud sudah tahu rencana Belanda untuk menyerang balik. Karena itu, Sultan memindahkan pusat kesultanan ke Daik, Lingga. Sultan membawa rakyatnya dengan 200 perahu ke Lingga, ada yang ke Pahang, Bulang, Trengganu, Kalimantan dan kawasan lain di bawah kekusaaan Sultan Mahmud Riayat Syah.

Taktik ini sengaja Sultan pilih untuk mengantisipasi jika satu kawasan diserang, maka tentara dan rakyat dari kawasan lain akan menyerbu musuh secara bersama-sama.

Dengan perpindahannya ke Lingga, Sultan menjadi penghalang besar bagi perdagangan Belanda di Selat Malaka sehingga kejayaan Belanda di Malaka pun runtuh. Pada 1795 Inggris mengakui kedaulatan penuh Sultan Mahmud Riayat Syah.

Pengakuan itu akhirnya diikuti oleh Belanda.
9 November 2017, Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Mahmud Riayat Syah. ***

(tim riset & data katabatam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © Katabatam.com | Newsphere by AF themes.