Media Kian Gencar Ingatkan Krisis Air bisa Landa Batam

Kabar Baik dari Batam

Media Kian Gencar Ingatkan Krisis Air bisa Landa Batam

2 min read

Belakangan ini krisis air yang akan melanda Kota Batam mulai gencar disampaikan oleh media ternama di kota ini. Hal ini bagus, selain mampu menggugah kesadaran masyarakat, juga bisa segera dicarikan solusi yang tepat.

Sebagaimana selalu diingatkan oleh Walikota Batam/ Kepala Badan pengusahaan Batam H Muhammad Rudi (HMR), artikel yang terbit di sesi utama halaman Metropolis harian Batam Pos, Jumat (6/12/2019) mengingatkan agar warga Batam bersiap hadapi krisis air.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geoiisika (BMKG) Hang Nadim Batam, menyebut bahwa memasuki tahun 2020 Batam diprediksi akan mengalami krisis air. Sebab curah hujan di bulan Februari akan menurun drastis.

Untuk itu, BMKG menyarankan agar PT Adhya Tirta Batam (ATB) dan Badan Pengusahaan (BP) Batam, memaksimalkan waduk atau dam untuk menampung air hujan.

“Desember inilah puncak hujan. Inilah saat yang tepat menampung air, karena nanti Februari akan turun lagi (intensitas hujan),” kata Kepala Stasiun Meteorologi Kelas 1 Hang Nadim Batam, I Wayan Mustika, Kamis (5/12/2012), di Gedung Marketing BP Batam.

Setelah Badai Kammuri usai, maka diprediksi curah hujan Desember akan meningkat. Prediksi curah hujan diperkirakan akan berada di atas 150 mm. Setelah itu, terus turun hingga di bawah 150 mm pada Februari nanti. “Februari nanti curah hujan kurang dari 100 mm,” tuturnya.

Sedangkan Direktur Enggineering ATB, Paul Bennet, mengatakan, kondisi saat ini memang membutuhkan perhatian tingkat tinggi. Saat curah hujan menurun, tapi kebutuhan air terus meningkat. “Kebutuhan air di Batam naik terus, naiknya bisa 20 persen per tahun,” ucapnya lagi.

Satu-satunya cara agar bisa mempertahankan ketersediaan air baku adalah dengan melakukan rationing harian.

Di tempat yang sama, Kepala Kantor Air dan Limbah BP Batam, Binsar Tambunan mengatakan, pengaruh curah hujan sangat besar bagi kelangsungan ketersediaan air bersih di Batam. Pasalnya, waduk-waduk di Batam memang mengandalkan curah hujan.

“Di Duriangkang, level elevasinya sudah minus 2,73 di bawah spillway. Tapi kita tidak diam. Salah satu solusinya kami akan menyelesaikan pembangunan IPAL (Instalasi Pengolahan Air dan Limbah),” paparnya.

Pengembangan IPAL, dimaksudkan untuk membantu ketersediaan air dalam jangka panjang. Untuk saat ini, kebutuhan air di Batam mencapai 3.500 liter per detik. Sedangkan 2045 nanti, akan meningkat menjadi 7.500 liter per detik.

Iika memaksimalkan tampungan hujan, maka akan mendapati angka 4.000 liter per detik. “Lewat IPAL nanti, alfan bantu 230 liter per detik. Alr limbah domestik juga naqti akan masuk ke IPAL sehmgga tak mencemari lagi ke Duriangkang,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © Katabatam.com | Newsphere by AF themes.