IPAL juga Ampuh Atasi Konflik Lingkungan

Kabar Baik dari Batam

IPAL juga Ampuh Atasi Konflik Lingkungan

2 min read

Tahun 2004 lalu ada sebuah penelitian yang ditulis mahasiswa Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta yang berjudul “Konflik Lingkungan di Kampung Agas, Tanjunguma, Batam”. Menarik untuk disimak.

Penulisnya adalah mahasiswa Fakultas Teknik, Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, sertamahasiswa Fakultas Teknik, Jurusan Arsitektur dan Perencanaan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji akar masalah konflik dan solusinya. Penelitian ini merupakan studi deskriptif-kualitatif, dengan data yang dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.

Berikut kami kutip di sini:

Perkembangan Kota Batam sebagai kawasan industri, perdagangan, pelabuhan, dan pariwisata, membawa tidak saja dampak positif, melainkan juga dampak negatif.

Salah satu dampak negatif yang muncul adalah konflik lingkungan dalam bentuk pencemaran air di sungai Jodoh yang mengganggu warga pemukiman di Kampung Agas, Tanjunguma.

Penelitian ini menemukan bahwa akar masalahnya adalah konflik spasial antara permukiman dan pembangunan ruko yang menimbulkan limbah di sekitar permukiman tersebut.

Apa pasal? Ternyata akibat tidak dibangunnya Instalasi Pengolahan Air dan Limbah (IPAL), sehingga memicu protes warga di permukiman dan memantik konflik.

Demikian kutipan ringkasnya.

Dari sini diketahui bahwa IPAL pada suatu kawasan tak hanya ampuh untuk membuat lingkungan bersih dan asri, juga ternyata bisa menghindari konflik. Sebagaimana yang terjadi di Tanjunguma 2004 lalu.

Terkait pembangunan IPAL di Tanjunguma, sebenarnya Badan Pengusahaan (BP) Batam sudah lama merencanakannya. Namun, baru bisa terealisasi tahun 2020 mendatang, setelah pembangunan IPAL tahap satu di Bengkong Sadai selesai.

“Pembangunan IPAL ini merupakan bagian dari rencana pembangunan 7 IPAL di Batam,” ujar Kepala Bidang Pengelolaan Limbah BP Batam, Iyus Rusmana.

Dikatakan, saat ini Batam baru memiliki satu yakni IPAL Batam Centre yang berlokasi di kawasan Bengkong Sadai, Kecamatan Bengkong, dengan kapasitas 230 liter per detik atau 20 ribu meter kubik per hari.

“Pembangunan IPAL ini untuk menjaga lingkungan dari pencemaran limbah domestik. Di Batam ini, perlu dibangun sejumlah IPAL, rencananya akan dibangun 7 IPAL,” katanya

Selain Batam Centre (Bengkong Sadai), IPAL lain yang akan dibangun di Batam ada di kawasan Kabil, Telaga Punggur, Tanjunguma, Sekupang, dan Tembesi.

“Untuk yang di Tanjunguma segera dibangun setelah IPAL Bengkong Sadai selesai sepenuhnya. IPAL Tanjunguma, diperkirakan mampu menampung 33 ribu meter kubik limbah per hari,” kata dia.

Menurut Iyus, proyek pembangunan IPAL di Batam sudah dilirik dan diminati investor dari berbagai negara seperti Jepang, Korea dan China.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © Katabatam.com | Newsphere by AF themes.