IPAL akan Digratiskan Dulu

Kabar Baik dari Batam

 IPAL akan Digratiskan Dulu

2 min read

“Kami sebenarnya sangat mendukung adanya Instalasi Pengolahan Air dan Limbah (IPAL) di Kota Batam. Sebab sangat bermanfaat. Lingkungan bersih dan sehat, air juga terjamin Tapi apakah nanti masyarakat dikenakan tarif?”

Demikian salah satu komentar masyarakat yang masuk di halaman KataBatam.

Untuk menjawabnya, kami menghubungi Kabid Pengelolaan Limbah Badan Pengusahaan Batam Iyus Rusmana.

Menurutnya, soal penerapan tarif pihaknya akan mempertimbangkan terlebih dahulu. Namun dia menyebut, untuk perngoperasian satu atau dua tahun, mungkin akan digratiskan terlebih dahulu.

“Tarif” yang dimaksud di sini, tentu saja tak memberatkan masyarakat.
Sebab hanya hal itu untuk menutupi operasional. “Tarifnya pasti ada, tapi saya kira tidak mahal karena hanya untuk operasional saja,” jelasnya.

Iyus melanjutkan, sebagai kota industri dan daerah tujuan pariwisata, isu lingkungan menjadi persoalan yang sangat penting untuk diperhatikan. Karena itu Badan Pengusahaan (BP) Batam terus berupaya menciptakan lingkungan yang sehat. Salah satunya adalah dengan membangun IPAL tersebut.

“Proyek ini dikerjakan oleh Hansol EME dan konsultannya Sunjin, keduanya dari Korea Selatan,” kata Iyus.

Secara keseluruhan, proyek IPAL ini mencakup pembangunan lima stasiun pompa, pemasangan pipa 114 kilometer dan pemasangan pipa sambungan ke rumah-rumah. Sudah lebih 43 perumahan di luar ruko-ruko dan hotel yang sudah dilewati oleh pipa IPAL tersebut.

Untuk di Batam pembangunan IPAL sendiri sebenarnya telah dimulai pada sekitar tahun 1995 dengan kapasitas sistem hanya sebesar 2.850 m3 per hari atau 33 liter/detik.

Karena melihat pertumbuhan penduduk yang pesat tentunya dibutuhkan pembangunan IPAL yang baru tersebut agar dikemudian hari tidak menjadi persoalan.

Saat ini Batam juga tak lagi memiliki kemampuan mengolah limbah sendiri. Jumlah limbah domestik dari kegiatan mandi, cuci, kakus (limbah domestik) terus bertambah setiap hari akibat pesatnya pertumbuhan penduduk. Pembangunan IPAL sendiri tidak hanya untuk menjaga lingkungan yang sehat, juga bertujuan untuk menjaga waduk dari limbah domestik.

“Tapi, tentunya perlu didukung kesadaran kita untuk menjaga lingkungan dan salah di antaranya yakni dengan mengelola air limbah,” katanya.

IPAL Bengkong Sadai sendiri dibangun di atas lahan sekitar 7 hektare. Proyek ini dibiayai dari dana dukungan Pemerintah Korea Selatan melalui pinjaman lunak (soft loan) Economic Development Coorperation Fund (EDCF) sebesar USD43 juta. Pengolahan limbah domestik di Batam ini akan dilakukan secara menyeluruh melalui jaringan perpipaan yang saling terintegrasi.

Pada tahap pertama fase 1 ini, dengan membangun IPAL baru pembangunan jaringan pipa sanitasi air limbah sepanjang 114 km, penyambungan pipa sambungan rumah sebanyak 11.000 rumah tangga dan terdapat 5 relay pumping station. Proyek ini ditargetkan pada penyelesaian tahap I berkapasitas mengelola limbah cair 20.000 m3/hari atau 230 liter/detik.

Manfaat IPAL kata dia tentunya sangat banyak diantaranya menjaga kualitas dan kuantitas air waduk, menjaga kualitas perairan agar tetap bersih, menjaga saluran drainase/parit, sungai, pantai dari pencemaran limbah domestik, estetika lingkungan terjaga bersihg, hijau dan asri.

Kemudian IPAL juga menghasilkan pupuk berkualitas yang bisa digunakan untuk penghijauan hutan kota, taman kota, dan taman-taman lingkungan.

“Selain itu juga peningkatan kesehatan masyarakat karen lingkungan bersih dari bibit-bibit penyakit. Dengan estetika lingkungan yang bersih serta kualitas air terjaga maka akan meningkatkan investasi serta wisatawan ke Batam,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © Katabatam.com | Newsphere by AF themes.