Kota-kota Maju Pasti Punya IPAL

Kabar Baik dari Batam

Kota-kota Maju Pasti Punya IPAL

2 min read

Apa yang menjadi indikator sebuah kota bisa disebut maju? Mungkin jawaban Anda: punya banyak mall. Bisa juga. Namun itu belum cukup bila tak memiliki sistem pengolahan limbah.

Indikator ini kami dapat berdasar rangking kota-kota terbersih di dunia, yang semuanya kota sangat maju dan modern, umumnya memiliki reugulasi ketat akan sistem pengolahan limbahnya.

Hal ini bisa kita lihat pada 10 kota terbersih di dunia, yang sempat dilansir cnnindonesia.com pada 2017 lalu.

Kota tersebut adalah, Oslo di Norwegia, Stockholm di Swedia, Wina di Austria, Kobe di Jepang, Freiburg di Jerman, Singapura, Adelaide di Australia, Luksemburg, Zurich di Swiss, Calgary di Kanada.

Kota-kota tersebut bisa bersih antara lain karena : Pertama, Pemerintah memiliki kebijakan ketat terhadap pengelolaan sampah dan setiap orang harus mematuhinya, seperti di Oslo.

Kedua, memiliki sistem pengelolaan limbah yang baik. Sampah dikumpulkan dari rumah tangga melalui jaringan terowongan bawah tanah untuk pembuangan limbah. Mereka mendaur ulang 99% dari limbah dan sisanya 1% ke tempat pembuangan sampah, seperti di Stockholm.

Ketiga, memiliki sistem manajemen pembuangan limbah yang paling efisien, seperti di Kobe.

Keempat, pengaturan mutu sistem daur ulang dan pembuangan limbah. Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melestarikan lingkungan, seperti di Calgary.

Kelima, peraturan tentang kebersihan ditegakkan sangat ketat yang bahkan meludah sembarangan dianggap suatu pelanggaran. Masyarakat dan pemerintah bekerja bersama-sama untuk mewujudkan itu, seperti di Singapura.

Keenam, mendidik masyarakat mendaur ulang limbah, dan menggunakan produk daur ulang lebih efisien, seperti di Swiss. Ketujuh, masyarakat dididik untuk tidak membuang apapun di jalan, seperti di Adelaide.

Kedelapan, memiliki sistem yang efisien menghasilkan energi dari limbah, seperti di Wina.

Dari sini nampaknya Batam berpeluang menjadi kota terbersih di dunia. Sebab, kota ini segera memiliki Instalasi Pengolahan Air dan Limbah (IPAL) yang dibangun Badan Pengusahaan Batam. Tak tanggung-tanggung, ada tujuh instalasi.

“Kami telah menentukan tujuh lokasi pembangunan IPAL bagi limbah domestik. Mengingat jumlah penduduk di Batam terus bertambah,” kata Kepala Bidang Pengelolaan Limbah BP Batam, Iyus Rusmana di Batam.

Ketujuh IPAL inilah yang nanti akan menampung dan mengolah limbah rumah tangga dari Batam Centre, Bengkong, Tanjunguma, Sekupang, Tembesi, Telagapunggur, dan Kabil.

Namun untuk IPAL tahap pertama, dibangun di Bengkong Sadai untuk menampung limbah industri kawasan Batam Centre yang selama ini masuk ke Waduk Duriangkang.

“Padahal Waduk Duriangkang menyuplai 70 persen kebutuhan air bersih Batam. Untuk IPAL lain akan dibangun berikutnya,” kata dia.

Kini progres IPAL di Bengkong Sadai sudah capai 80 persen dan segera beroperasi tahun 2020 mendatang.

Setelah beroperasi nanti, IPAL fase 1 ini akan mampu melayani area seluas 18.379 kilometer persegi dari total area 38.963 kilometer persegi, yang meliputi Teluktering, Seipanas, Taman Baloi, Baloi Permai dan Sukajadi.

Total jumlah penduduk yang akan terlayani sebanyak 126.092 jiwa dengan debit air limbah sebanyak 19.280 meter kubik per hari (debit hari maksimum).

Pada tahap ini juga dibangun jaringan pipa sanitasi air limbah sepanjang 114 kilometer, penyambungan pipa sambungan rumah sebanyak 11 ribu rumah tangga dan terdapat 5 relay pumping station.

Proyek ini ditargetkan pada penyelesaian tahap I berkapasitas mengelola limbah cair 20.000 m3/hari (230 lt/dtk) dari kapasitas sebelumnya yang hanya 33 liter per detik sejak dibangun pada 1995.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © Katabatam.com | Newsphere by AF themes.