IPAL Bagus, Namun Belum Semua Bisa Terlayani

Kabar Baik dari Batam

IPAL Bagus, Namun Belum Semua Bisa Terlayani

2 min read

Bila jalan komplek atau lingkungan Anda ditemukan benda seperti dalam foto, berarti lingkungan Anda sudah terpilih mendapat pelayanan dari sistem pengolahan air dan limbah (IPAL).

Kenapa disebut “terpilih?” Karena tak semua wilayah bisa mendapat pelayanan IPAL ini, mengingat biaya pembangunannya yang cukup mahal. Jangan kan Batam, dari ratusan kota di Indonesia, baru belasan saja yang bisa memiliki fasilitas ini.

Detik.com menulis, baru 13 kota di Indonesia yang telah memiliki sistem instalasi pengolahan air limbah (IPAL) berskala besar seperti di Surakarta, Yogyakarta, Banjarmasin, Jakarta, Makassar, Banda Aceh, Denpasar, Medan. Itupun tak bisa mengcover semua.

Di Batam sendiri, Badan Pengusahaan (BP) Batam sudah merancang pembangunan tujuh IPAL untuk menampung dan mengolah limbah rumah tangga dari Batam Centre, Bengkong, Tanjunguma, Sekupang, Tembesi, Telagapunggur, dan Kabil.

“Kami telah menentukan tujuh lokasi pembangunan IPAL bagi limbah domestik (lihat grafis). Mengingat jumlah penduduk di Batam terus bertambah,” kata Kepala Bidang Pengelolaan Limbah BP Batam, Iyus Rusmana di Batam.

Namun untuk sementara baru bisa dibangun fase pertama di Bengkong Sadai. Saat ini progresnya mencapai 80 persen dan diprediksi selesai akhir 2020.

Untuk IPAL fase 1 ini akan mengcover area pelayanan seluas 18,379 kilometer persegi dari total area 38,963 kilometer persegi, yang meliputi Teluktering, Seipanas, Taman Baloi, Baloi Permai dan Sukajadi.

Total jumlah penduduk yang akan terlayani sebanyak 126.092 jiwa dengan debit air limbah sebanyak 19.280 meter kubik per hari (debit hari maksimum).

Pada tahap ini juga dibangun jaringan pipa sanitasi air limbah sepanjang 114 kilometer, penyambungan pipa sambungan rumah sebanyak 11 ribu rumah tangga dan terdapat 5 relay pumping station.

Pada tahap I akan mengelola limbah cair 20.000 m3/hari (230 lt/dtk).

“Untuk tahap awal IPAL di Bengkong Sadai dibangun untuk menampung limbah industri kawasan Batam Centre yang selama ini masuk ke Waduk Duriangkang. Padahal Waduk Duriangkang menyuplai 70 persen kebutuhan air bersih Batam. Untuk IPAL lain akan dibangun berikutnya,” kata dia.

Dengan dibangunnya IPAL di Sadai, diharapkan tidak ada lagi limbah rumah tangga masuk Waduk Duriangkang.

“Nanti hanya air hujan saja yang masuk ke Waduk Duriangkang. Sementara limbah rumah tangganya diolah di Sadai sebelum dikembalikan ke alam,” kata Yus.

Sementara yang menjadi prioritas lain adalah Tanjunguma yang menjadi lokasi pembuangan limbah rumah tangga Nagoya dan sejumlah hotel.

“Harapannya jika dibuat IPAL maka Tanjunguma akan bersih,” kata dia.

Pembangunan IPAL Sadai akan menggunakan dana pinjaman lunak dari Korea Selatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © Katabatam.com | Newsphere by AF themes.