Sisi Lain Nenek Hilda, Ide Kirim Surat ke HMR Didapat Usai Salat Dhuha

Kabar Baik dari Batam

Sisi Lain Nenek Hilda, Ide Kirim Surat ke HMR Didapat Usai Salat Dhuha

3 min read

Masih ingat Nenek Hilda? Yang ingin menjual satu-satunya kain warisan miliknya kepada Walikota Batam H Muhammad Rudi (HMR) guna menebus biaya pengobatan suaminya? Berikut sisi lain kisahnya.

Saat H Jefridin datang ke rumah kayu yang berada di tepi jalan depan Perum Anggara, Kecamatan Sagulung, Jumat (20/12/2019) pukul 09.00 WIB kemarin, Nenek Hilda hanya mengintip dari balik pintu.

Rumah itu terbuat dari papan yang berdiri di atas lahan kosong penuh ilalang milik pengembang. Alamatnya di Jalan Kavling lama, Nomor 10, RW 5 RT 12 Kelurahan Sagulung Kota, Kecamatan Sagulung.

Dia tak tahu kalau lelaki dengan pakaian Melayu warna biru langit itu adalah Sekretaris Daerah Kota Batam utusan Walikota Batam H Muhammad Rudi (HMR).

Yang menyambut saat itu adalah sang suami . Kondisinya agak lemah. Kedua lubang hidungnya disumbat dengan kertas tisu. “Hidung saya selalu deras berair Pak. Makanya ditutup pakai tisu,” jelas kakek ini.

Setelah petugas Kecamatan Sagulung mengenalkan siapa yang datang akhirnya Nenek Hilda mau keluar, duduk bersama di kursi plastik di depan pintu rumah.

Meski sudah uzur, namun Nenek Hilada masih lincah dan tampak sebagai orang terpelajar. Hal ini tercermin dari tutur katanya yang lugas, ringkas, namun jelas dalam menerangkan sesuatu yang menimpa dirinya saat ini.

Dia mengenalkan bahwa dirinya berasal dari Jawa Barat hingga dalam perantauannya ke negeri Segantang Lada ini, bertemu dengan sang suami, seorang Tionghoa.

Waktu membawa kedua pasangan ini ke Batam. Untuk menyambung hidup, suaminya bekerja sebagai tukang bangunan, kadang ngojek.

“Untunglah sekarang yang suami saya diterima untuk bantu-bantu di kelenteng sebelah sana (dekat kediamannya),” jelasnya.

Namun kondisi fisik yang menua membuatnya kadang sering sakit-sakitan dan terakhir dia terserang tuberculosis (TBC). Inilah yang kemudian membuat nenek Hilda terpaksa berutang untuk membayar pengobatan sang suami.

“Saya tak punya apa-apa lagi Pak. Rumah (papan) ini pun punya pemilik tanah dan sewaktu-waktu kami bisa disuruh pindah jika lahan ini akan dibangun,” jelasnya.

Meski demikian nenek Hilda mendapat perlakuan yang baik dari pemilik rumah papan ini. Terbukti dari kondisi rumah tersebut yang yang dialiri listrik dan air yang semua diberi gratis.

Namun, karena kondisi kian buruk, hingga akhirnya setelah salat duha dia punya ide berkirim surat kepada Walikota Batam HMR. “Saya tidak mau minta-minta karena saya masih memiliki satu-satunya harta pemberian orang tua saya 30 tahun lalu,” jelasnya.

Harta tersebut berupa satu helai kain ukuran 1 x 1 meter berbahan beludru bersulam benang emas.

“Kain ini mau saya jual ke Pak Wali. Terserah dia mau ngasih (beli) berapa. Asalkan hasilnya akan saya pergunakan untuk membayar utang pengobatan suami saya,” terangnya pada Jefridin.

Penawaran inilah yang dia tulis dalam suratnya kepada HMR. Berikut kutipan surat Nenek Hilda yang dia tulis sendiri dengan tangan menggunakan huruf kapital:

Bapak Rudi yang terhormat, terlebih dahulu saya perkenalkan nama saya ibu Hilda. Saya warga Batam tinggal di Sagulung, ibu rumah tangga. Kebetulan suami saya lagi sakit TBC sekarang dalam perawatan.

Karena suami saya lagi sakit, jadi belum bisa kerja tadinya Suami kerja bangunan.

Karena suami sedang sakit jadi benar-benar pemasukan macet. Sedangkan harta yang bisa dijual tak ada.

Saya (cuma) ada kain peninggalan orang tua sekitar 30 tahun yang lalu. Hanya barang ini (kain) yang saya mau jual ke Pak Rudi.

Semoga bapak bisa bantu dan mau membelinya nanti kalau suami saya sudah sehat kan bisa bekerja kembali.

Tadi saat saya salat Dhuha saya terpikir, mungkin Pak Rudi mau membelinya. Karena Pak Rudi adalah Bapak warga Batam, dengan rendah hati saya mengharap bapak bisa meringankan sedikit beban Saya bersedia membelinya.

Demikian inti suratnya.

Usai membaca surat Nenek Hilda ini, HMR terenyuh. Saat itu juga dia langsung memberikan disposisi kepada Sekda Kota Batam H Jefridin untuk segera membantu.

Hingga pada Jumat (20/12/2019) Jefridin datang menemui mereka dengan membawa tiga solusi.

Yakni: Membayar utang pengobatan suami nenek Hilda, mengurus tanggungan BPJS Kesehatan yang biayai oleh pemerintah Kota Batam dan memberi nafkah rutin dari Badan Amil Zakat Nasional Kota Batam.

“Bila suatu saat nenek disuruh pindah, kabari saya. Nanti tinggal di rumah saya,” ujar Jefridin.

Nek Hilda hanya bisa menangis dan terus menangis. Demikian juga suaminya. Mereka tak menyangka Tuhan begitu cepat mengabulkan semua langkahnya yang idenya dia dapat usai salat Dhuha, beberapa waktu lalu. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © Katabatam.com | Newsphere by AF themes.