Save Air, Waduk Kian Kering Bro!

Kabar Baik dari Batam

Save Air, Waduk Kian Kering Bro!

3 min read

HEMAT air itu penting, bukan terkait seberapa kemampuan kita untuk membayar, tapi lebih kepada sumber daya alam itu ada batasnya. Agar semua kebagian.

Sudah banyak imbauan agar hemat air. Salah satunya disampaikan Walikota Batam-Kepala BP Batam H Muhammad Rudi (HMR). Dia meminta warga Batam menghemat penggunaan air, karena terancam krisis.

Bila warga tidak menghemat air, maka dalam dua bulan ke depan, air sulit mengalir ke pemukiman.

“Mari kita berhemat agar air di Batam tetap mengalir,” ujarnya, Senin (2/3/2020).

Saat ini, air dari daratan Batam masih banyak dibuang ke laut, baik air hujan maupun air sisa penggunaan warga. Padahal semestinya harus dikelola agar tetap berada di pulau.

Karenanya harus dibuat sistem, agar air dapat dikelola dan tidak terbuang ke laut.

Solusi lain adalah penyambungan pipa dari waduk ke waduk. Namun, ia enggan menjabarkannya lebih detail dan menyerahkannya ke perusahaan pengelola air bersih PT Adhya Tirta Batam (ATB).

Ia juga menegaskan warga untuk tidak membuang-buang air. Pihaknya akan mengatur penggunaan air.

“Kalau setiap bulan habis 1 drum, dihemat jadi 0,5 drum,” kata pria yang juga menjabat sebagai Wali Kota Batam itu.

Diberitakan sebelumnya, Badan Pengusahaan (BP) Batam bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarkat Batam diimbau untuk menghemat penggunaan air bersih sebagai salah satu langkah antisipasi terjadinya kekeringan.

Manager Air Baku, Direktorat Badan Usaha Fasilitas dan Lingkungan, Hadjad Widagdo mengatakan perkiraan yang di lakukan BMKG untuk wilayah Kepri khususnya Batam curah hujan di Februari sangat rendah. Bahkan terendah jika dibandingkan bulan-bulan lainnya.

“Walapun tidak masuk kategori elnino kita tetap mengimbau agar masyarakat bisa menghemat penggunaan air bersih,” kata Hadjad di Marketing Centre BP Batam, Jumat (7/2/2020).

Dijelaskannya bahwa Batam yang bukan merupakan daerah pegunungan dan juga tidak memiliki sungai selama ini sangat tergantung dengan air hujan yang ditampung dalam waduk. Sehingga jika curah hujan rendah maka otomatis persediaan air baku juga berkurang.

Hadjad mengatakan pemakaian air bersih di Batam tergolong sangat boros jika dibandingkan dengan rata-rata yang seharusnya. Dimana setiap orang di Batam rata-rata memakai air bersih sekitar 200 liter/hari, sedangkan rata-rata yang seharusnya adalah 160 liter/hari.

“Ini bukan terkait seberapa kemampuan kita untuk membayar, tapi lebih kepada bahwa sumber daya alam itu ada batasannya. Karena itu kita ajak untuk berhemat,” katanya.

Saat ini ada lima waduk di Batam yang memang menjadi sumber utama air baku, Waduk Duriangkang di Sei Beduk masih menjadi penompang utama suplai air bersih di Batam. Atau sekitar 80 persen kebutuhan air oleh masyarakat Batam disuplai dari waduk yang memiliki kapasitas 3000 liter/detik tersebut.

Sedangkan upaya yang dilakukan BP Batam sendiri dalam jangka panjang pihaknya akan bekerjasama dengan Badan Penkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk mencari teknologi yang cocok untuk mendatangkan hujan. Hal ini juga menjadi langkah antisipasi jika Batam terjadi kemarau panjang.

“BP Batam juga tengah mengembangkan konsep Integrated Total Water Management (ITWM),” katanya.

Melalui konsep tersebut pihaknya akan menyinergikan antara potensi ketersediaan air baku, air bersih, pengelolaan air limbah. desanilasi air laut dan daur ulang (rycycle). Dengan demikian ketersediaan air bersih di Batam diharapka bosa tetap terjaga.

“Jangka panjag BP Batam sudah menyiapkan beberapa perencanaan untuk pengelolaan air di Batam,” katanya. ***
______
Sumber: Koran Sindo Batam
Foto: Salah satu bentuk hemat air dari PT Adhiya Tirta Batam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © Katabatam.com | Newsphere by AF themes.