Embun Pagi HMR

Kabar Baik dari Batam

Embun Pagi HMR

1 min read

MENARIK mengkaji sistem penomoran orang Jawa. Di sana sarat tersirat fase-fase kehidupan manusia.

Misal pada angka 21-29, 25, 50, 60 memiliki sebutan khusus. Semua ini bukan berarti tak ada maknanya.

Bahasa Jawa menyebut 20 dengan rongpuluh, namun 21-29 tidak disebut rongpuluh siji – rongpuluh songo, melinkan selikur-songolikur.

“Likur” ini adalah singkatan dari “lingguh kursi” atau duduk di kursi. Artinya pada usia 20-an inilah seseorang mendapatkan kursi berupa kepribadian, pekerjaan, profesi dan yang lainnya.

Namun pada angka 25, tak disebut “limo likur”, melainkan “selawe”. Ini juga singkatan dari “seneng-senenge lanang lan wedok” (masa ketertarikan bagi lelaki dan perempuan), dimana dalam masyarakat Jawa umur 25 adalah umur ideal untuk menikah.

Menginjak angka 50 disebut “seket”, artinya “seneng kethonan” atau sering memakai peci, topi maupun penutup kepala yang lain, yang artinya menandakan umur sudah tua waktunya untuk banyak beribadah.

Yang terakhir adalah 60, disebut “sewidhak”, singkatan dari “sejatine wis wayahe tindak” atau sesungguhnya sudah saatnya “pergi”. Pergi ke mana? Tentunya menuju kematian. ***

Berita Lainnya

1 min read
1 min read
1 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © Katabatam.com | Newsphere by AF themes.