Belajar dari Royal Ambarrukmo, Hotel yang Padukan Modernitas dan Kelestarian Budaya

Kabar Baik dari Batam

Belajar dari Royal Ambarrukmo, Hotel yang Padukan Modernitas dan Kelestarian Budaya

2 min read

AKHIR pekan lalu kami sempat berkunjung ke Royal Ambarrukmo Hotel di Yogyakarta. Ada pelajaran menarik yang bisa dikisahkan di sini, tentang bagaimana mereka sangat peduli akan kelestarian budaya.

Sejarah Hotel Ambarukmo ini bermula ketika almarhum Sultan Hamengku Buwono IX, membangunnya pada tahun 1960-an.

Hotel yang berlokasi di Jl Adi Sucipto, Yogyakarta ini, sampai sekarang tetap survive dan bahkan memenangi berbagai penghargaan bergengsi.

Berdasar lembaran sejarah, Royal Ambarukmo berdiri atas inisiasi Presiden Soekarno dan Sultan HB IX yang kala itu menjabat sebagai Menteri Ekonomi dan Keuangan.

Dulu namannya Ambarrukmo Palace Hotel namun kemudian diganti menjadi Royal Ambarukmo yang resmi dibuka sejak 1966.

Lokasi pembangunannya berada di Pesanggrahan Ambarrukmo yang merupakan situs besejarah milik Kraton Ngayogyakarto. Pesanggarahan itu sendiri sudah dibangun pada era Sultan Hamengku Buwono V (1823-1855).

Pernah direnovasi pada masa 1895-1897 oleh Sultan HB VII (1877-1921) yang menjadikan pesanggrahan ini sebagai tempat menjamu tamu penting yang ingin bertemu Sultan.

Sultan HB VII juga memilih berdomisili di pesanggrahan ini. Sultan HB VII sendiri dikenal sebagai Sultan Sugih (kaya) karena banyak mendirikan pabrik gula di Yogyakarta hingga mencapai 20 buah — salah satunya masih beroperasi sampai hari ini adalah pabrik gula Madukismo.

Kini, Royal Ambarrukmo Yogyakarta yang sangat kental dengan peninggalan budaya Jawa, memiliki beberapa kegiatan yang dapat diikuti oleh tamu, yaitu Jemparingan (tradisi memanah), Patehan (tradisi minum teh), Mocopatan (seni membaca puisi Jawa).

Ada juga latihan tari Jawa klasik dan Aceh, kelas biola untuk anak-anak, kelas suling bamboo dan angklung, dan kelas yoga.

Kegiatan-kegiatan yang tersedia mulai dari hari Senin sampai Sabtu ini biasa dilakukan di area Pendopo sebagai bagian dari program CSR karena memfasilitasi komunitas yang ada di Yogyakarta.

Tamu juga akan dimanjakan dengan kegiatan lainnya seperti menonton pertunjukan sendratari Ramayana, tur mengelilingi Museum Ambarrukmo yang memamerkan karya seni terbaik Jawa seperti keris dan batik, tur menaiki kereta kencana kuda yang terdapat di Museum Ambarrukmo.

Semoga 4 alinia di atas ini bisa menjadi semacam inspirasi bagi hotel-hotel di Batam untuk menggagas kegiatan guna merawat dan mengembangkan budaya tempatan, dalam hal ini Melayu.

Moderen harus. Namun tetap menjejak pada nilai-nilai kearifan lokal. Inilah yang menjadi semangat Batam Bandar Dunia Madani. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © Katabatam.com | Newsphere by AF themes.