Embun Pagi HMR

Kabar Baik dari Batam

Embun Pagi HMR

1 min read

MUNGKIN kita semua sudah mengenal Socrates, “bidan filsafat”, Sang Penanya dari Yunani kuno yang hidup di abad ke-5 dan 4 Sebelum Masehi. Dia adalah guru Plato, tokoh utama filsafat Yunani kuno.

Socrates dicintai murid-muridnya. Satu hal yang istimewa dari Socrates: ia guru yang tak memungut bayaran. Padahal di masa itu guru-guru filsafat (disebut ”sophistai” guru kearifan) memang dapat pasar bagus dari orang kaya yang ingin mendidik anaknya.

Tampaknya Socrates melanjutkan tradisi mengajar itu. Ia sendiri belajar dari filsuf pengembara Seperti Parmenides, Zeno, Archeleus. Baginya, filsafat adalah percakapan tentang kebajikan. Dengan itu hidup ditelaah (diuji). ”Hidup yang tak diuji tak layak disebut hidup”.

Itu sebabnya, ia menelusur ke dalam keyakinan manusia, dan memergoki orang dengan pertanyaan-pertanyaan untuk dijawab dengan tak sembarangan. Maka ia ditakuti mereka yang tak mampu berpikir jernih. Tapi ia menyebut diri sebagai ”lalat pengganggu” bagi lembu yang nyenyak.

Metodenya pun sederhana: setelah meminta definisi tentang satu istilah yang dipakai orang, ia telaah apa yang kurang lalu dipertanyakan.

Metode Socrates, ”elenchus” yang memecah soal ke dalam pertanyaan-pertanyaan – satu pendekatan analitis – kelak berguna bagi metode ilmiah.

Dengan bertanya, satu hipotesa ditelaah. Kalau goyah, harus ditinggalkan, dan diganti dengan hipotesa yang lebih baik.

”Rasa ingin tahu adalah awal dari kebijaksanaan,” katanya. ***
_________
Foto: ilustrasi

Berita Lainnya

1 min read
1 min read
1 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *