Embun Pagi HMR

Kabar Baik dari Batam

Embun Pagi HMR

1 min read

DI ZAMAN keemasan Dinasti Abbasiyah, hassrat akan pengetahuan dan buku tampak marak di Baghdad.

Di tahun 794, pabrik kertas pertama di dunia Islam dibangun di sana. Teknologi ini bermula dari China di tahun 105, sampai ke Mekah tahun 707, di Spanyol tahun 950, di Itali tahun 1157, di Jerman tahun1228.

Di sekitar tahun 891, ada lebih dari 100 toko buku di Baghdad (lebih banyak mungkin ketimbang Jakarta kini). Toko buku ini dipakai juga untuk mengkopi, buat kaligrafi, dan pertemuan sastra. Para mahasiswa hidup dengan mengkopi buku.

Minat pada buku juga tampak tinggi: waktu itu sudah ada orang-orang yang memburu tandatangan pengarang dan beli buku-buku kuno.

Kebanyakan masjid menyediakan perpustakaan (maktabah). Sekitar tahun 950 kota Mosul sudah punya perpustakaan yang didirikan atas inisiatif swasta.

Di perpustakaan yang terbuka bagi publik di Rayy, buku demikian banyak hingga perlu 30 katalogus besar untuk mendaftarnya.

Para terpelajar dan orang kaya bangga bila punya koleksi buku yang banyak dan bermutu. Pernah seorang dokter diundang Sultan di Bukhara untuk tinggal di istananya. Ia menolak, sebab untuk mengangkut bukunya perlu 400 unta.

Bagaimana dengan kita sekarang? Sudah berapa buku yang dibaca dan sudah sedalam apa ilmu yang diserap?

“Ilmu itu kehidupan hati daripada kebutaan, sinar penglihatan daripada kezaliman dan tenaga badan daripada kelemahan,” kata Imam Al Ghazali (1058-1111), cendekiawan Muslim ternama hingga saat ini. ***

Berita Lainnya

1 min read
1 min read
1 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *