Embun Pagi HMR

Kabar Baik dari Batam

Embun Pagi HMR

1 min read
KETIKA buku menjadi panglima, ilmu pengetahuan pun tumbuh bagai bunga di musim semi. Inilah yang dialami di masa jaya Dinasti Abbasiyah di Baghdad, silam.

Gunawan Mohammad menulis, bersama gairah kepada bacaan itu, tumbuh ilmu pengetahuan. Pada masa itu lahir sejarawan seperti Ibnu Qutaiba (828-89) yang menulis sejarah dunia.

Di tahun 987, Muhammad al-Nadim menyusun ”Index Ilmu” (Fihrist al-‘ulum): satu bibliografi semua buku asli dan terjemahan waktu itu. Indeks itu mencakup semua cabang ilmu.

Ada lagi: Al-Masudi. Ia, asli Baghdad, menjelajah dunia sampai Sri Lanka. Ia tuliskan observasinya ke dalam 30 jilid ensiklopedia. Di tahun 947 versi ringkas dari karya besarnya itu terbit dengan judul ”Ladang Emas dan Tambang Batu Mulia”.

Di tahun 976, Muhammad ibnu Ahmad menulis tentang perlunya konsep ”sifr” (kosong) yang di-Latin-kan jadi ”zephyrum” alias nol.

Sebelumnya, di th 825 al-Khawarizmi menulis risalah yang akhirnya ditertjemahkan ke bahasa Latin: ”Algoritmi de numero Indiarum”.

Sumbangan al-Khwarizmi kepada ilmu bukan main-main. Ia perkenalkan angka, menghimpun tabel astronomi, merumuskan tabel trigonometri tertua yang pernah diketahui.

Sebenarnya masih banyak lagi ilmuwan yang tumbuh di masa, ketika buku sangat diagungkan itu.

Wajarlah bila Mohammad Hatta, Bapak Proklamator kita berucap:

“Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ***

Berita Lainnya

1 min read
1 min read
1 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *