Embun Pagi Ramadan 6

Kabar Baik dari Batam

Embun Pagi Ramadan 6

2 min read

ALKISAH, seorang pemuda berusia kira-kira 12 tahun menempuh perjalanan dari kota asalnya, Mekah menuju kota Baghdad untuk menuntut ilmu. Sebelum ia berangkat, ia meminta sang ibu untuk memberi wasiat kepadanya.

“Wahai anakku, aku tak akan memberi wasiat kepadamu, namun ada satu permintaanku. Berjanjialah kepadaku kau tak akan berbohong kepada siapapun,” pesan sang ibu.

Si pemuda itu lantas mengiyakan. Sang ibu pun memberikan 400 dirham kepada anaknya sebagai bekal perjalanan.

Berangkatlah pemuda itu menuju Baghdad, namun di tengah perjalanan dia dihadang sekawanan perampok.

“Wahai pemuda, apakah kau memiliki uang” todong sekawanan perampok itu.

Si pemuda yang ingat akan pesan ibunya lantas menjawab dengan jujur.

“Iya, aku memiliki uang sebanyak 400 dirham,” jawab si pemuda dengan polosnya.

Sekawanan perampok itupun lalu menertawakan si pemuda itu seraya berkata,

“Mana mungkin anak muda sepertimu punya uang sebanyak itu, sudah sudah pergilah kau anak muda,” ucap para perampok itu sambil menertawakan.

Berlalu lah si pemuda itu. Tak seberapa jauh ia berjalan, pemuda itu lantas dihadang kembali oleh seseorang. Seseorang itu tak lain adalah pemimpin para perampok yang menghadangnya tadi.

“Wahai pemuda, apakah kau memiliki uang,” todong pemimpin perampok itu.

Pemuda itu kembali terngiang oleh wasiat ibunya untuk tidak berbohong kepada siapapun.

“Iya, aku memiliki uang sebanyak 400 dirham,” jawab si pemuda dengan polosnya.

Namun berbeda dengan anak buahnya yang tak percaya kepada pemuda itu, pemimpin rampok itu justru percaya dan merampas uang 400 dirham tersebut.

Namun, pemimpin rampok itu terheran-heran kenapa pemuda itu jujur kalau memiliki uang 400 dirham.

“Kenapa kamu berkata jujur, sedang kau tahu risiko akan kehilangan uang yang kau punya itu,” tanya si pemimpin rampok.

“Aku diberi wasiat oleh ibuku agar tidak berbohong kepada siapapun, dan kini aku sedang menjaga amanah itu,” jelas si pemuda.

Si pemimpin rampok itu terkejut dengan jawaban si pemuda. Kini hatinya mulai tak karuan melihat si pemuda yang begitu teguh memegang amanah dari ibunya.

Dia teringat pada dirinya sendiri yang begitu mudah melanggar apa yang diamanahkan Allah.

“Ambillah uangmu, kini aku berjanji untuk tobat kepada Allah. Aku tak akan bermaksiat lagi setelah ini,” ujar si pemimpin rampok sambil mengembalikan uang pemuda itu.

Singkat cerita, sore harinya, anak buah dari pemimpin rampok itu menemuinya untuk menyetorkan hasil rampokannya. Mereka terheran mendapati pemimpinnya tersedu-sedu menangis dan menyesali segala perbuatannya selama ini.

“Wahai anak buahku, kini aku bertaubat. Aku akan menjalankan amanah perintah Allah sebagai hamba,” ucap pemimpin rampok itu sambil terus tersedu.

Mendengar ucapan sang pemimpin, anak buahnya lantas menimpali.

“Wahai tuanku, kalau engkau sudah bertaubat sedang kau adalah pemimpinku, maka kami akan ikut bertaubat kembali ke jalan Allah,” ungkapnya.

Akhirnya pemimpin dan kawanan perampok itu pun tobat, lantaran kepolosan, kejujuran, dan keteguhan pemuda tadi dalam memegang amanah dan wasiat. ***
_________
Sumber: islami.co
Judul: Kisah Perampok yang Tobat karena Anak Muda Melakukan Hal Ini
Penulis: Mukhammad Lutfi

Sumber asli kisah ini adalah kitab “Anisul Mu’minin”, karya Syaikh Shafwak Sa’dallah al-Mukhtar. Dalam kitab itu kisah ini berjudul “al-Shidqu thariq al-Najah“, atau Jujur Pangkal Selamat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *