Embun Pagi Ramadan 10

Kabar Baik dari Batam

Embun Pagi Ramadan 10

2 min read
HAJI AGUS SALIM, laki-laki asal Sumatra Barat lahir dengan nama asli Mashudul Haq (Pembela Kebenaran), dikenal memiliki pengetahuan luas.

Pengetahuan Salim yang luas dan penguasaannya pada banyak bahasa (pilygoth) membuatnya bisa menjawab perdebatan secara lugas.

Suatu ketika di Volksraad (parlemen Hindia Belanda) ada seorang Belanda mengejek Salim ketika menggunakan kata “Ekonomi”.

‘Si bule’ mengatakan bahwa itu bukan bahasa Melayu, jadi sebaiknya oleh Agus Salim kembali berbahasa Belanda, bahasa resmi Volksraad waktu itu.

Mendengar pertanyaan angota Volksraad yang asal Belanda itu, H Agus Salim lalu menyahut. Katanya, “Saya akan ganti pemakaian kata ‘ekonomi’ kalau tuan juga sudah menyampaikan keluhan dengan menyebutkan ekonomi dengan bahasa Belanda”.

Tentu saja ‘si Belanda’ itu terdiam mendengar jawaban balik H Agus Salim. Ini karena memang kata ‘ekonomi’ memang berasal dari bahasa Perancis (setelah sebelumnya menyerap dari bahasa Yunani oikonomia).

Jadi kata ‘ekonomi’ yang ada dalam bahasa Belanda dan bahasa Melayu sama menyerapnya dari bahasa asing, yakni Yunani.

Memang itulah kisah sosok H Agus Salim yang cerdas dan berjanggut yang dahulu diejek Muso, tokoh PKI dalam sebuah rapat, sebagai kambing.

Yang berjenggot apa saudara-saudara?” tanya Muso ketika berpidato di atas podium.

Menjawab pertenyaan tersebut, hadirin dari SI Merah ramai-ramai berteriak,“kambing!”.

“Kalau yang berkumis?”, hadirin pun lalu ramai menyahut, “kucing!” .

Mendengar ejekan itu, ketika giliran H Agus Salim naik panggung pun membalasnya. Dari atas podium ketika berpidato dia pun bertanya balik bertanya pada hadirin.

“Tadi hewan-hewannya kurang lengkap, apa yang tidak berkumis dan tidak berjenggot (kebetulan Musso tidak berkumis dan berjenggot)?” tanya Agus Salim kepada peserta rapat.

Mendengar pertanyaan dari H Agus Salim yang berdiri di atas podium, para ternyata lebih riuh seraya serempak menyahut dengen menyebut nama hewan, “anjing!”.

Musso dan para peledek H Agus Salim terdiam. Dia tak bisa melakukan ungkapan ‘kick’ balik kepada Agus Salim. Pertemuan itu dilanjutkan seperti biasa.

Semua tahu betapa H Agus Salim tidak ‘marah’ atas ejekan itu serta membalikannya dengan argumen yang cerdas.

Ini juga menjadi bekal bagi para generasi Indonesia ketika hendak menjadi diplomat, politisi, atau pemimpin agar setiap kali berdebat harus memakai nalar dan argumentasi yang baik serta tak perlu marah-marah.

Di kemudian hari, nasihat diplomasi ala H Agus Salim diteruskan oleh mendiang mantan menteri luar negeri dan mantan Wakil Presiden Adam Malik.

Nasihatnya, dalam debat dan diplomasi semua itu harus lentur dan dibicarakan baik-baik. Katanya: ‘’Itu semua bisa diatur!’’ ***
________
Sumber: Republika.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © Katabatam.com | Newsphere by AF themes.