Catatan Redaksi: Lawan Covid-19 di Kota Batam (1)

Kabar Baik dari Batam

Catatan Redaksi: Lawan Covid-19 di Kota Batam (1)

2 min read
Pandemi Ini Dapat Dikalahkan Bila Kita Kompak, Sama-sama Melawan

MINGGU (17/5/2020) pagi itu, warga tumpah ruah di depan mal Ramayana dan Pasar Tos 3000, Jodoh.

Lapak pedagang kaki lima, yang sebagian besar berjualan barang seken, ramai pembeli. Suasan sesak, berdesakan jadi hal biasa di antara riuh suara saling tawar menawar.

Di lokasi ini, sejumlah pedagang menawarkan pakaian bekas, ponsel, koper, jam tangan, beragam mainan anak, hingga aneka makanan.

Sebagian menyebut, barang-barang itu didatangkan dari negeri jiran, Singapura, sehingga dianggap punya daya jual tinggi.

Saat akhir pekan, lokasi ini bertambah ramai dikunjungi warga yang berburu barang-barang bekas tapi masih layak digunakan tersebut.

Tak hanya di Jodoh, kerumunan serupa juga lumrah dilihat di beberapa wilayah lain di Kota Batam.

Mulai saat pagi hari ketika seseorang berbelanja di pasar, atau kala beranjak sore dan banyak warga mencari takjil untuk berbuka puasa, bahkan saat malam tiba yang banyak dimanfaatkan sebagian remaja untuk berkumpul atau nongkrong.

Suasana yang ramai dan sesak itu tentu saja menyalahi imbauan untuk menjaga jarak (physical distancing) yang getol disuarakan Pemerintah Kota (Pemko) Batam di tengah pandemi Covid-19.

Sayangnya, warga tetap tak peduli untuk menjaga jarak aman sesuai protokol kesehatan. Bahkan, sebagian masih acuh dengan anjuran menggunakan masker saat keluar rumah. Alih-alih untuk sering mencuci tangan.

Apakah mereka tak diingatkan? Atau mereka memang nekat melawan imbauan pemerintah?

Padahal, kerap kali Walikota Batam H Muhammad Rudi (HMR), mengajak semua warga agar terhidar dari Covid-19 ini.

Berulang kali pula Walikota menyampaikan imbauan. Bahkan, ia menugaskan masing-masing koordinator dari unsur Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang sudah ia bentuk di setiap kecamatan, untuk mengawasi langsung penerapan imbauan pemerintah.

Namun, lagi-lagi itu kembali ke masyarakat, apakah akan mendengar dan menaati anjuran dan imbauan pemerintah, atau malah melawannya dengan dalih untuk menjaga kelangsungan ekonomi.

Memang, tak bisa dipungkiri semua sektor di Batam terimbas wabah corona. Sektor pariwisata lebih dahulu merasakannya. Ketika wisatawan tak lagi datang, perputaran uang ke beberapa sektor yang berkaitan tak lagi kencang.

Belum lagi, semua sendi ekonomi dan sektor usaha juga harus menahan beban karena lesunya permintaan di pasaran, namun di sisi lain tetap harus menghidupi puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan orang karyawan yang berada dalam tanggungan.

Ekonomi Batam melemah, berujung banyaknya warga dirumahkan atau paling apes, jadi pengangguran.

Sektor perdagangan, yang selama ini dikenal menopang ekonomi kemasyarakatan, juga makin sepi pembeli akibat penularan virus yang menyerang sistem pernapasan ini. Semua mengeluh, namun harus bertahan sekuat tenaga agar tak runtuh.

Tidak ada siapa pun yang menginginkan hal ini. Karena itu, semua komponen, dari pejabat hingga rakyat, harus bergandeng tangan. Saling mendukung, agar wabah ini cepat berlalu.

Pemerintah memikirkan rakyat. Begitu juga sebaliknya, rakyat patuh semua kebijakan pemerintah. Semua lapisan masyarakat harus se-ia sekata. (Bersambung)
_______
Sumber: Media Center Pemko Batam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © Katabatam.com | Newsphere by AF themes.