Ditandai dengan Salat Ashar Berjamaah, Masjid Sultan Sudah Dibuka Kembali

Kabar Baik dari Batam

Ditandai dengan Salat Ashar Berjamaah, Masjid Sultan Sudah Dibuka Kembali

2 min read

SETELAH lama ditutup di awal perang melawan Covid-19, Kamis (28/5/2020) Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah sudah dibuka kembali.

Pembukaan masjid terbesar di Sumatera yang diresmikan Walikota Batam H Muhammad Rudi (HMR) pada Kamis, 19 September 2019 lalu tersebut, ditandai dengan salat Ashar berjamaah.

“Alhamdulillah, Masjid Sultan sudah salat Ashar berjamaah, walau tetap menjaga jarak dan wajib pakai masker. Ini foto kemarin saat hari pertama dibuka,” ujar Sekretaris Daerah Kota Batam H Jefidin, pagi ini.

Namun lanjut Jefridin, masjid di Batuaji yang mampu menampung hingga 25.000 jamaah dan memiliki kubah terbesar di Indonesia ini belum boleh digunakan untuk kegiatan keagamaan.

“Kegiatannya belum diizinkan sampai waktu yang belum ditentukan,” jelas mantan tenaga pendidik ini.

Dengan dibukanya masjid yang memiliki menara pandang setinggi 99 meter sehingga mampu melihat panorama Singapura tersebut, menambah lengkap pembukaan tempat ibadah umat Islam di Kota Batam setelah Masjid Agung Batam di Batam Center dan Masjid Baiturrahman di Sekupang.

Sebagaimana diketahui, Walikota Batam H Muhammad Rudi (HMR) akhirnya mengeluarkan surat edaran (SE) tentang protokol pelaksanaan ibadah di masjid dan musala pada fase new normal percepatan penanggulangan pandemi Covid-19.

Dalam SE tertanggal 27 Mei 2020 dan ditujukan kepada camat, lurah dan pengurus masjid dan musala se-Kota Batam itu berisi beberapa poin panduan dan aturan guna persiapan pelaksanaan adaptasi perubahan pola hidup pada situasi new normal di Kota Batam.

Penjabarannya sebagai berikut:

1. Pelaksanaan Ibadah secara berjamaah pada Zona Merah dan Zona Kuning. Pada prinsipnya Pemerintah Kota Batam tetap menganjurkan untuk salat berjamaah di rumah.

Namun bagi pengurus dan jamaah masjid dan musala yang tetap berkeinginan melaksanakan salat berjamaah dan kegiatan keagamaan lainnya di masjid/musala, diperkenankan. Asalkan menerapkan Protokol Pencegahan Penyebaran COVID-19 secara ketat

2. Pengurus Masjid/Musholla wajib memperhatikan dan melaksanakan Standar Protokol Kesehatan Pencegahan Penyebaran COVID-19 antara lain:

a. Menjaga kebersihan masjid/musala, membuka lebar-lebar pintu dan jendela serta tidak menghidupkan pendingin ruangan (air conditioner/AC).

b. Menyediakan sarana cuci tangan pakai sabun dan hand sanitizer.

c. Memprioritaskan jamaah warga setempat atau sekitar masjid dan musala.

d. Memastikan setiap jamaah berpakaian bersih dan dalam kondisi sehat dengan melakukan pemeriksaan suhu tubuh.

e. Menganjurkan jamaah untuk berwudhu di rumah, jika harus berwudhu di masjid/ musala harus menjaga jarak minimal 1,5 s/d 2 meter (pengurus memberi tanda pada tempat wudhu).

f. Wajib menggunakan masker dengan benar (menutupi hidung dan mulut).

g. Mengharuskan jamaah membawa sajadah masing-masing dan tidak meninggalkan di masjid/musala.

h. Menerapkan physical distancing dengan menjaga jarak antar jamaah 1,5 s/d 2 meter (pengurus memberi tanda pada lantai).

i. Menganjurkan jamaah untuk tidak bersalaman dan berpelukan. ***

SALAT Ashar berjamaah perdana di Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah, pasca pembatasan sosial Covid-19, kemarin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *