Shaf Salat Berjarak Antisipasi Covid-19, Bagaimana Hukumnya?

Kabar Baik dari Batam

Shaf Salat Berjarak Antisipasi Covid-19, Bagaimana Hukumnya?

2 min read

PENULARAN virus corona (Covid-19) yang begitu cepat mendorong diperlukannya langkah pencegahan dan antisipasi agar virus ini tidak semakin menyebar luas menginfeksi masyarakat. Langkah pencegahan ini juga turut mempengaruhi cara salat berjamaah.

Di Masjid Agung Batam, misalnya, salat wajib berjamaah dilakukan dengan menerapkan konsep social distancing atau berjarak satu meter antarshaf. Jamaah juga memberi jarak yang cukup dengan jamaah di sampingnya.

Hal serupa dilakukan di Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah, Batam. Sesuai imbauan, jarak shaf antarjamaah harus berjauhan dengan jarak minimal 1,5 meter.

Lantas, bagaimana hukum shalat berjamaah dengan shaf berjarak ini? Apakah itu tetap sah dalam kaidah fikih?

Dikutip dari Republika, Dai Ambassador Dompet Dhuafa, Ustaz Alnof Dinar, menjelaskan salat berjamaah yang dilaksanakan di dalam masjid itu sah selama makmum mengetahui perpindahan gerakan imam dari satu pekerjaan shalat kepada pekerjaan lainnya.

Baik dengan melihat maupun dengan mendengar atau dengan cara melihat imam langsung atau melihat gerakan makmum lain atau mendengar suara imam atau mendengar suara mubaligh (orang yang menyambungkan suara imam agar terdengar oleh jamaah yang posisinya jauh dari imam).

Ia mengatakan, salat berjamaah sah sekalipun jarak imam dan makmum jauh dan tidak lebih dari 300 hasta.

Hal ini dijelaskan dalam kitab Minhaj al-Qawim, bahwa shalat berjamaah tetap sah jika mereka berdua (imam dan makmum) berada di dalam satu masjid atau beberapa masjid, yang pintu-pintunya terbuka atau jika ditutup tidak dikunci mati (dipaku).

Salat berjamaah juga sah jika masing-masing masjid berjamaah dengan adanya seorang imam, muadzin dan jamaah khusus, meskipun jarak mereka berjauhan.

Misalnya jarak di antara mereka tidak lebih dari 300 hasta. Menurut Madzhab Syafi’i dan Madzhab Hanbali, satu hasta setara dengan 61,834 cm (dibulatkan 62 cm).

“Di dalam kitab Nihayah al-Zain disebutkan, jika imam dan makmum berada di dalam satu masjid yang sama, salat berjamaah mereka sah, sekalipun jarak shaf mereka jauh, bahkan sampai 300 hasta,” kata Ustaz Alnof, melalui pesan elektronik kepada Republika.co.id, Kamis (19/3/2020).

Berdasarkan pandangan para ulama Mazhab Syafi’i, sebagai amalan masyarakat rumpun Melayu, salat jamaah yang dilakukan di dalam satu tempat yang sama (masjid, musala, aula, lain-lain) hukumnya tetap sah meskipun jarak mereka berjauhan.

Hal ini menurut Ustaz Alnof sering juga ditemukan pada kebanyakan jamaah di Masjid Al-Haram dan Masjid Nabawi.

Mereka umumnya adalah jamaah yang masbuk dan shalat di halaman masjid, jalan-jalan menuju masjid, pelataran hotel dan mal yang menyambung ke halaman masjid.

“Maka salat yang dilakukan oleh sebagian jamaah di saat wabah virus Covid-19 dengan membuat jarak antara satu orang jamaah dengan yang lain sejauh satu meter atau kurang dari itu, adalah boleh dan sah salat berjamaah mereka menurut semua mazhab Fiqh, selain mazhab Zhahiriyah,” jelasnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © Katabatam.com | Newsphere by AF themes.