Memoar Seorang Wakil Walikota Batam H Amsakar Achmad (3)

Kabar Baik dari Batam

Memoar Seorang Wakil Walikota Batam H Amsakar Achmad (3)

3 min read
Melewati Darkest Hour, Nyawa Masyarakat Lebih Penting daripada Popularitas

Di tulisan kali ini Wakil Walikota Batam H Amsakar Achmad (HAM) menjelaskan hal-hal krusial yang menjadi latar belakangnya dalam membantu H Muhammad Rudi (HMR) mengambil keputusan besar. Misal memperpanjang belajar di rumah, hingga penutupan rumah ibadah.

Jabatan yang diemban HAM betul-betul menyorot hari-harinya saat imembantu HMR melewati “darkest hour” untuk menyelamatkan nyawa jutaan warga Batam dari ancaman Covid-19. Di antaranya adalah anak-anak!

Di suatu masa, beredar usulan agar Pemerintah Kota Batam mengambil sikap terkait kebijakan jadwal masuk untuk anak sekolah.

Sebab Pemko diminta tidak boleh membiarkan anak-anak menjadi carrier (orang yang membawa dan menularkan penyakit) Covid-19 kepada keluarga atau orang tuanya.

“Walikota pun membuat surat edaran agar anak-anak belajar di rumah, supaya mereka tidak terjangkit wabah penyakit,” tulis HAM dalam akun facebook-nya, dengan tajuk Catatan Pelepas Penat 6, “Mencari Salah Dalam Pusaran Covid-19 dan Konstelasi Politik”.

Beberapa saat berjalan, muncul pemikiran lain bahwa anak-anak sudah sangat rindu sekolah. Tapi mengapa Pemko terus memperpanjang belajar di rumah? Ini adalah anggapan salah kedua untuk pemerintah.

“Kami pun bergerak cepat, mengumpulkan kepala sekolah se-Kota Batam. Hasilnya, berdasarkan masukan dari pihak sekolah dan orang tua, jadwal belajar di rumah kembali diperpanjang demi menjaga anak-anak kita tetap sehat. Yang pasti, anak-anak juga harus tetap belajar, meskipun dilakukan secara daring dari rumah,” terangnya.

Di saat lain lagi, saat Pemko Batam mengambil kebijakan penyisiran dan melakukan pembatasan sosial di tingkat kecamatan.

Setelah hal tersebut dilakukan, muncul lagi pendapat, mengapa tidak dilakukan lockdown total? Mengapa pemerintah malah mengambil kebijakan karantina wilayah yang dinilai serba tanggung karena tidak sekalian menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB)?

“Ini saya sebut anggapan salah (yang) ketiga,” jelasnya.

Tahukah Anda, Pemko Batam berupaya maksimal menggerakkan semua elemen yang dimiliki, termasuk menggandeng aparat TNI dan Polri, untuk memastikan masyarakat mengikuti imbauan pemerintah. Seperti, mengenakan masker, menjaga jarak, dan menganjurkan warga tetap berada di rumah.

Selain itu, Pemerintah juga menyisir warga hingga ke tingkat kecamatan dan kelurahan, untuk menekan penyebaran wabah penyakit yang menyerang saluran pernapasan tersebut. Bahkan, dengan penyisiran itu pula, bisa dengan cepat mengetahui adanya kasus baru di kota ini.

Kritik dan bully tak berhenti di situ. Kita ingat, ada berbagai cluster positif Covid-19 yang muncul di Batam. Ada cluster pendeta dan jemaat gereja dari kasus pertama virus corona di Batam, cluster ASN Dinas Pemberdayaan Perempuan, cluster jemaah tabligh dan masjid di Sekupang, cluster Bengkong dan Seraya, lalu muncul lagi cluster jemaat gereja HOG.

“Lalu, kita pun mengambil kebijakan untuk menutup tempat ibadah,” jelasnya.

Keputusan menutup rumah ibadah ini sungguh tidak populis, ibarat melawan arus besar. Selain sensitif, juga bisa meruntuhkan citra dan popularitas HMR-HAM sebagai pemimpin nan agamis.

Terbukti setelah tempat ibadah ditutup, muncul berbagai pendapat, mengapa hanya rumah ibadah ditutup sedangkan pasar dan mal tidak? Ada apa dengan pemerintah?

“Berbagai argumentasi pun bermunculan di media. Ini saya sebut anggapan salah yang keempat kepada pemerintah,” tegasnya.

Namun hal tersebut harus dilaksanakan demi menyelamatkan agama itu sendiri. Apalagi pengambilan keputusan penutupan tempat ibadah ini tidak serta merta dilakukan sepihak Pemko Batam, tetapi mengikutsertakan para pemangku kepentingan seperti tokoh lintas agama.

“Sekali lagi, kami banyak meminta masukan dari para pemuka agama, cendikiawan, dan forum lainnya sebelum memutuskan menutup tempat ibadah tersebut,” jelasnya.

Pertimbangannya kala itu, tulis HAM, karena berkumpulnya banyak orang dalam satu ruangan, terlebih tanpa jarak, berpotensi menjadi medium penularan penyakit.

Pertimbangan lainnya, beribadah juga bisa dilakukan di rumah, apalagi saat terjadinya kondisi darurat karena adanya wabah. Toh, beribadah di rumah juga bisa dilakukan berjemaah dengan anggota keluarga lainnya.

“Namun, kini sudah kami buka lagi, dengan catatan menerapkan protokol kesehatan,” terangnya. ***
(Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *