Pemko Percantik Monumen Budaya Melayu: Penanda Negeri, jua Ikon Kota Batam

Kabar Baik dari Batam

Pemko Percantik Monumen Budaya Melayu: Penanda Negeri, jua Ikon Kota Batam

2 min read

WAKIL Walikota Batam H Amsakar Achmad (baju biru) saat meninjau pengecatan Monumen Alat Musik di median Jalan Jenderal Sudirman, Batam Kota, Minggu (7/6/2020).

HAMPIR semua kota di dunia memiliki bangunan yang mengingatkan orang pada tempat tersebut. Itulah yang disebut sebagai landmark, penanda sebuah daerah.

Di jantung Kota Batam punya tiga landmark, berupa monumen. Dua di Batamcentre, yakni bertema Alat Musik Melayu dan Hantaran. Satu lagi, di Sekupang bertema Hantaran.

Untuk menjaga dan mempercantik kota, Pemerintah Kota (Pemko) Batam memugar monumen budaya Melayu, yang menjadi ikon kota Batam di tiga titik tersebut.

“Kami ingin kota ini tetap cantik dengan begitu akan menjadi daya pikat bagi wisatawan. Ini menjadi ikon Batam,” kata Wakil Walikota Batam H Amsakar Achmad (HAM), saat meninjau pengecatan Monumen Alat Musik di median Jalan Jenderal Sudirman, Batam Kota, Minggu (7/6/2020).

Ia mengatakan, kegiatan ini perlu dilakukan mengingat monumen ciri khas Melayu tersebut sebelumnya terlihat kusam sehingga perlu dilakukan pengecatan ulang.

“Kita punya tiga munumen seperti ini. Di Batamcentre ada dua yakni alat musik tradisional dan hantaran dan di Sekupang satu, yakni hantaran. Kalau berwarna begini lebih cantik lagi. Dilihat pun enak,” kata Amsakar.

Ia mengatakan, pihaknya bersama Walikota Batam H Muhammad Rudi (HMR) terus fokus memperbaiki semua fasilitas yang ada di kota ini, meskipun anggaran daerah terfokus kepada penanganan Covid-19.

“Jadi, perbaikan seperti ini kita gandeng perusahaan sebagai kontribusi ke daerah. Kalau ini (pengecatan monumen), kita gandeng Jotun,” kata dia.

Namun, tidak sampai di situ, keberadaan monumen ini nantinya akan menjadi spot foto bagi warga maupun wisatawan. Jika demikian, tentu akan dibenahi fasilitas di sekitar monumen tersebut.

“Saya sudah instruksikan ke Kadisbudpar agar dirancang tanpa merusak fasilitas lain. Jika sudah ada nanti saya sampaikan ke pak wali dan pejabat teknisnya,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Disdbudpar Batam, Ardiwinata mengatakan, monumen tersebut merupakan aset yang harus dirawat lantaran bercirikan budaya Melayu.

Menurutnya, pembangunan tiga monumen ini dalam rangka pelestarian nilai-nilai budaya yang ada.

”Kita merawat sehingga tetap bagus. Itu juga sesuai Perda Nomor 1 Tahun 2018 tentang Pemajuan Kebudayaan Melayu,” ujarnya. ***
_______
Sumber: Media Center Pemko Batam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *