Kabar Baik dari Batam

Embun Pagi HMR

1 min read

HAJI Agus Salim. Pasti kita sudah mengenalnya. Tapi tahukah Anda, manusia jenius ini lahir dengan nama asli Musyudul Haq (bermakna “pembela kebenaran”) di Koto Gadang, 8 Oktober 1884.

Di masa kanak-kanak pahlawan nasional ini, keluarganya merekrut pengasuh dari Jawa Timur. Di sinilah bermula nama “Gus” itu disematkan, hingga melekat menjadi Agus.

Maklumlah, “Gus” adalah panggilan sayang sekaligus hormat untuk anak laki-laki khas Jawa Timur termasuk Madura.

Sapaan ini bisa berlanjut sampai yang bersangkutan berusia lanjut, khususnya di kalangan dekat. Contohnya adalah Gus Dur.

Sapaan itu yang selalu dipakai sang pengasuh, sampai akhirnya malahan mengaburkan nama aslinya.

Panggilan ini menular ke teman-teman sekolahnya yang ikut memanggil “Gus” lalu “Agus”. Karena ayahnya bernama Sutan Mohamad Salim, maka nama Salim ditambahkan sehingga menjadi Agus Salim. Di sekolah pertamanya, ia terdaftar sebagai “August Salim”.

Kabar di atas ini kami kutip dari tulisan Faisal Basri dengan judul, Haji Agus Salim: Kisah Teladan Kesederhanaan.

Bicara soal nama ini, ada ungkapan yang amat populer dalam drama romantis-tragedi mahakarya William Shakespeare, “Romeo and Juliet”.

“What’s in a name? That which we call a rose. By any other name would smell as sweet…”

Di sini, Shakespeare ingin ngomong, bunga mawar itu kalaupun diberi nama selain “mawar”, bau wanginya akan tetap sama. ***
———–
Foto ilustrasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.