Menyusuri Pulau Anak Karas Bersama Gerakan Pramuka Peduli (2)

Kabar Baik dari Batam

 Menyusuri Pulau Anak Karas Bersama Gerakan Pramuka Peduli (2)

2 min read

SEDAPNYA lihat Kak Amsakar (kanan) dan Kak Jefridin menyantap ikan tamban

>>> Hikayat Ikan Tamban, Nikmat Masakan dan Potensi Ekonomi Warga

USAI meninjau penangkaran penyu di Pulau Anak Karas, rombongan Gerakan Pramuka Peduli Kota Batam dijamu oleh Daud (65), pengelola kawasan ini. Apalagi kalau bukan menikmati masakan ikan tamban nan lezat khas Karas.

Sabtu (20/6/2020) sekitar pukul 10.00 WIB, tuan rumah mengajak Ketua Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Batam H Amsakar Achmad (HAM), bersama Ketua Pramuka Peduli Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Batam H Jefridin, ke sebuah pondok kecil dari bambu yang berada tak jauh dari pantai.

Di sana HAM, Jefridin duduk melingkar bersama 7 orang lain. Dalam sekejap pondok itu pun penuh.

Sepoi angin pantai serta wangi masakan menambah gairah saat nasi lemak dan lontong sayur panas tersaji.

Lawannya adalah salai ikan tamban. Kuahnya cair dan merah. Sepintas mirip ikan sardin.

Saat disantap… Wuaaah… pertecto, numero uno, lezat, maknyus, atau apalah semua kata yang melambangkan kenikmatan itu. Belum pernah masakan ini ditemui di Kota Batam.

Rasanya pedas manis, dilengkapi potongan cabe rawit. Uniknya ikan ini bagai dipresto, sehingga tulangnya lunak.

Lebih “biadab” lagi rasanya saat ditambah sambal lada kering di campur petai, sedap mantap!

Sekadar diketahui, Pulau Anak Karas ini terletak di bagian ujung Pulau Karas Besar, Kelurahan Karas, Kecamatan Galang, Batam,

Pengolahan ikan tamban dengan cara dikeringkan lazim ditemui di serata pulau yang berdasarkan legenda berasal dari nama “Keras” ini.

Bahkan aktivitas ini sudah menjadi semacam industri rumah tangga di pulau yang banyak dihuni suku Melayu, sejak kerajaan Melayu Lingga tersebut.

Biasanya ikan tamban kering yang sudah dibelah ini dipasarkan ke Tanjungpinang. Untuk menjadikan ikan tamban kering dibutuhkan lebih kurang 7 kg ikan tamban basah.

Proses pembuatannya sangat sederhana, yaitu dengan membelah ikan tamban kemudian diletakkan di para-para untuk dikeringkan di bawah matahari.

Pengeringan ikan tamban sebenarnya lebih aman jika dimasak (dikukus). Dehingga jika kondisi mendung ikan tidak cepat busuk.

Selain dikeringkan, ikan tamban juga diolah jadi otak-otak. Rasanya juga tak kalah mantap dengan ikan tenggiri.

Berdasarkan data yang kami dapat dari Direktorat Pendayagunaan Pulau-Pulau Kecil, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Republik Indonesia, ikan tamban adalah ikan pelagis yang bergerombol.

Sehingga, keberadaannya di alam sangat dipengaruhi oleh kualitas lingkungan perairan secara menyeluruh.

Ikan tamban tidak akan datang ke suatu wilayah dan bermigrasi ke tempat lain bila kondisi lingkungannya masih baik.

Oleh karena itu untuk mengembangkan komoditi unggulan ikan tamban belah di Pulau Karas ini, tidak saja dibutuhkan kebijakan untuk meningkatkan nilai tambah; namun yang lebih penting harus ada berbagai program yang bertujuan untuk penyelamatan lingkungan terutama wilayah pesisir dan lautnya sehingga keberadaan ikan tamban tetap ada.

Inilah yang akan dijawab oleh gerakan Pramuka Peduli ini. Secara kebetulan juga Kak Amsakar Achmad adalah Wakil Walikota dan Kak Jefridin adalah Sekretaris Daerah Kota Batam yang merupakan pemangku kepentingan Pulau Batam yang wilayahnya mencakup pulau yang berberada di Kecamatan Galang ini. ***

(Bersambung)

KAK Hariyanti (tiga dari kiri) sabar menunggu.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *