Menyusuri Pulau Karas Kecil Bersama Gerakan Pramuka Peduli (1)

Kabar Baik dari Batam

Menyusuri Pulau Karas Kecil Bersama Gerakan Pramuka Peduli (1)

3 min read

KAK HAM (kanan) dan Kak Jefridin saat meninjau tempat penangkaran penyu di Pulau Anak Karas, Sabtu (20/6/2020).

>>> Kak HAM & Jefridin Langsung Gali Potensi Wisata Pantai & Atraksi Lepas Tukik

GERAKAN Pramuka Kota Batam beraksi lagi. Kali ini mengunjungi Pulau Anak Karas, Kecamatan Galang, Sabtu (20/6/2020) pagi, untuk melihat budidaya penyu dan pengembangan pariwisata.

Rombongan ini dipimpin Ketua Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Batam H Amsakar Achmad (HAM), bersama Ketua Pramuka Peduli Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Batam H Jefridin.

Ikut juga para Andalan Cabang, pelatih, Kwaran se-Kota Batam, Dewan Kerja Cabang, Dewan Kerja Ranting, serta Pramuka Penegak Pendega dari Satuan Karya Pramuka se-Kwarcab Batam.

Rombongan ini berangkat dari Pelabuhan Telaga Punggur sekitar pukul 08.00 WIB dan tiba sekitar pukul 09.00 WIB.

Pulau Anak Karas ini terletak di bagian ujung Pulau Karas Besar, dikelilingi hamparan pasir putih. Sisi lainnya ditumbuhi mangrove dan terdapat tumpukan batu-batu berukuran besar.

Di bagian tengah pulau, terhampar tanah datar cukup luas, ditumbuhi pohon kelapa yang membuat kawasan ini terasa tidak terlalu panas ketika siang hari.

Sisi lainnya berupa lahan dengan kontur berbukit, menjadi tempat berdirinya menara suar penanda bagi kapal-kapal besar yang melintasi di jalur ini.

Menara suar yang masih beroperasi ini merupakan menara tua yang telah berusia lebih dari 130 tahun. Karena itu jualah pulau ini disebut juga sebagai “Pulau Lampu”.

Di bagian pantainya, sengaja dibangun pondok-pondok kecil sebagai fasilitas bagi masyarakat atau wisatawan yang singgah di pulau ini. Juga tersedia kamar mandi dan musala.

Daya tarik lain dari Pulau Anak Karas adalah Penyu. Di sini menjadi tempat bertelur penyu, wisatawan yang beruntung terkadang bisa ikut melepas tukik (anak penyu). Hal inilah yang saat ini jua ditinjau oleh Pramuka Peduli ini.

Saat pertama kali mendarat, Kak Amsakar yang juga Wakil Walikota Batam dan Kak Jefridin, Sekretaris Daerah Kota Batam, langsung disambut Daud (65), pengelola kawasan tersebut, dan anaknya Busri.

Selanjutnya, anak beranak ini langsung membawa dua pemuka di Pemko Batam tersebut melihat tempat penyu bertelur, diiring oleh rombongan lain yang di antaranya ada camat, kepala badan dan beberapa kepala bagian di Setdako Batam.

Usai berjalan puluhan langkah tibalah mereka ke pojok pulau. Pada sebuah tanah berpasir sekitar 20 meter dari bibir pantai, ada sebuah tempat yang atasnya diberi semacam kurungan ayam dari bambu.

“Di sinilah tempat penyu meletakkan telurnya, pak,” jelas Busri kepada HAM.

Pemuda ini pun sedikit berkisah ke belakang. Selama ini, telur penyu dikonsumsi oleh masyarakat. Tapi di Pulau Karas Kecil, telur penyu tersebut dilindungi.

Kemudian tangannya menggali pasir pantai tersebut. Hingga di kedalaman 20 cm tampaklah beberapa butir benda putih.

Di lubuk atau sarang tersebut, rata-rata berisi antara 150 sampai 160 telur. Dan satu lagi, ternyata masa penyu bertelur tersebut ketika musim selatan tiba.

“Inilah telurnya Pak. Ini masih baru. Biasanya akan menetas selama 50 hari,” jelas Busri kepada Kak HAM.

Dia menjelaskan, setelah menetas nanti, anak penyu atau disebut “tukik” itu tidak langsung dia lepas ke laut. Tapi masih dirawat dulu. Setelah dirasa sudah agak besar dan siap, barulah tukik-tukik tadi diantar ke laut lepas.

Dari sini Kak HAM langsung punya ide agar saat pelepasan tukik tadi, dikemas menjadi atraksi pariwisata.

“Pulau ini memiliki daya tarik alam nan cantik. Ditambah lagi dengan ada atraksi pariwisata, pasti banyak yang akan terpikat untuk datang,” terangnya.

Cuma yang jadi masalah, Pulau Anak Karas ini tak memiliki pelantar atau dermaga. Sehingga kapal feri tak bisa langsung mendarat di pulau.

Agar bisa masuk ke pulai ini, feri harus lepas jangkar di tengah. Selanjutnya pengunjung masih naik lagi sampan atau pompong kecil agar bisa sandar langsung di tepi pantai.

“Nanti kita usahakan cari sponsor yang bisa bangun dermaga di sini,” janji Kak Amsakar. (Bersambung)

 

KAK HAM melihat telur penyu.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *