Embun Pagi HMR

Kabar Baik dari Batam

Embun Pagi HMR

1 min read

KISAH kejujuran Mohammad Hatta mungkin bagi pejabat di Indonesia adalah sebuah legenda.

Saat diundang ke Irian Jaya, Bung Hatta meninjau tempat ia pernah dibuang pada masa kolonial Belanda. Drama pun terjadi ketika Wakil Presiden ini disodori amplop berisi “uang saku” setelah ia dan rombongan tiba di Irian. “Surat apa ini?” tanya Bung Hatta.

Dijawab oleh Sumarno, Menteri Koordinator Keuangan saat itu yang mengatur kunjungannya, “Bukan surat, Bung. Uang, uang saku untuk perjalanan Bung Hatta di sini.”

“Uang apa lagi? Bukankah semua ongkos perjalanan saya sudah ditanggung pemerintah? Dapat mengunjungi daerah Irian ini saja saya sudah harus bersyukur. Saya benar-benar tidak mengerti uang apa lagi ini?”

“Lho, Bung… Ini uang dari pemerintah, termasuk dalam biaya perjalanan Bung Hatta dan rombongan,” kata Sumarno coba meyakinkan Bung Hatta.

“Tidak, itu uang rakyat. Saya tidak mau terima. Kembalikan,” kata Bung Hatta menolak amplop yang disodorkan kepadanya.

Setelah terdiam sebentar Bung Hatta berkata, “Maaf, Saudara, saya tidak mau menerima uang itu. Sekali lagi saya tegaskan, bagaimana pun itu uang rakyat, harus dikembalikan pada rakyat.”

Kesederhanaan ini sungguh mengagumkan. Wajarlah bila penulis ternama, Pramoedya Ananta Toer (1925-2006) pernah berkata.

“Jarang orang mau mengakui, kesederhanaan adalah kekayaan yang terbesar di dunia ini: suatu karunia alam. Dan yang terpenting diatas segala-galanya ialah keberaniannya. Kesederhaan adalah kejujuran, dan keberanian adalah ketulusan.” ***
_______
Sumber: Dilengkapi Sumber Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © Katabatam.com | Newsphere by AF themes.