Embun Pagi HMR

Kabar Baik dari Batam

Embun Pagi HMR

2 min read

PADA suatu ketika, ada seorang nelayan. Sejak pagi buta hingga petang menjelang Maghrib, tak satupun ikan didapat. Di tengah laut ia lantas berdoa kepada Tuhan.

“Ya Allah, katanya Rahman-Rahim (Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang) sampeyan? Ini sampai Maghrib, kenapa saya tidak mendapat ikan ya Allah? Mana Rahman-Rahim-mu ya Allah. Kan aku setiap hari baca basmallah. Mana buktinya?”

Allah maha malu kepada hambanya kalau tidak memberikan rahmatNya. Maka tak lama kemudian ikan jatuh di perahunya.

Kemudian si nelayan bilang, “Ya Allah kok cuma lima. Ya memang anak saya tiga, tapi ya mosok limaaa beneran. Yaa..sepuluuh laaah,” ujarnya berusaha melakukan tawar-menawar rizki yang diberikan Tuhan.

Namanya Allah Sang Maha Pengasih dan Penyayang, diberikanlah ikan sebanyak 10 ekor di perahunya. “Yaaa 10 bagus, tapi kalau dikasih 15 yaaa lebih bagus laaaah,” ujarnya masih terus melobi Tuhan.

Tuhan pun akhirnya memberikan ikan berlimpah hingga perahu nelayan itu penuh. Perahu yang penuh ikan tersebut segera diseret ke tepi pantai untuk pulang.

Sesampai di pantai, nelayan itu melihat asap hitam tebal membumbung tinggi. “Wah, kebakaran!”ujarnya sambil berlari. Ikannya ditinggal.

Di tengah jalan bertemu temannya. “Cak, rumah sampeyan kebakar itu!’,”

Nelayan tersebut bukannya lari menuju rumahnya, tapi justru berdiri menghadap langit sambil berkata: “Ya Allah, maksudnya bagaimana sampeyan? Soal ikan kan masalah di laut, kenapa dibawa-bawa sampai di darat?”

Kisah ini disampaikan oleh Ulama nyentrik Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun di hadapan jemaah Maiyah.

Cak Nun meminta tak perlu marah ataupun salah tafsir atas cerita seperti itu. Tidak sedikitpun ada nilai melecehkan Tuhan. Justru itu menjadi salah satu cara bagaimana bermesraan dengan Tuhan. Bertujuan lebih akrab dan dekat dengan Tuhan. ***
________
Sumber: Jatengtoday.com
Foto: Irwansyah St/Instagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *