𝘒𝘪𝘴𝘢𝘩 𝘎𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘒𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘗𝘦𝘯𝘺𝘢𝘥𝘢𝘱 𝘒𝘢𝘳𝘦𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘉𝘢𝘳𝘢𝘯 (3): 𝗛𝗶𝗷𝗿𝗮𝗵 𝗸𝗲 𝗕𝗮𝘁𝗮𝗺, 𝗵𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗠𝗮𝗺𝗽𝘂 𝗦𝗲𝘄𝗮 𝗞𝗮𝗺𝗮𝗿 𝗱𝗶 𝗞𝗮𝗺𝗽𝘂𝗻𝗴 𝗕𝗮𝘄𝗲𝗮𝗻

Kabar Baik dari Batam

𝘒𝘪𝘴𝘢𝘩 𝘎𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘒𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘗𝘦𝘯𝘺𝘢𝘥𝘢𝘱 𝘒𝘢𝘳𝘦𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘉𝘢𝘳𝘢𝘯 (3): 𝗛𝗶𝗷𝗿𝗮𝗵 𝗸𝗲 𝗕𝗮𝘁𝗮𝗺, 𝗵𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗠𝗮𝗺𝗽𝘂 𝗦𝗲𝘄𝗮 𝗞𝗮𝗺𝗮𝗿 𝗱𝗶 𝗞𝗮𝗺𝗽𝘂𝗻𝗴 𝗕𝗮𝘄𝗲𝗮𝗻

2 min read

Hj Marlin Agustina bersama H Muhammad Rudi dalam sebuah acara.

SAAT menikah dengan Marlin Agustina, Muhammad Rudi masih seorang polisi di Karimun dengan pangkat brigadir.

Hingga akhirnya di tahun 1990-an mereka pindah ke Kota Batam. Saat itu Rudi belum punya apa-apa. Di Batam mereka ngontrak kamar ukuran kecil di Kampung Bawean, Seipanas.

“Kami tak bisa sewa rumah. Bapak hanya mampu kontrak 1 kamar,” kenang Marlin.

“Sampai sekarang rumah yang kami kontrak itu masih ada di Kampung Boyan (Bawean). Sanalah kalau mau lihat,” sambung Marlin.

Namun, Marlin tidak mengeluh. Hidup penuh keprihatinan selama di Kabupaten Karimun, telah menempanya menjadi pribadi lebih siap menghadapi realita.

Sejak kecil hingga saat SMA di Pulau Karimun Besar pun, Marlin sudah biasa hidup seadanya.

“Saat SMA kaos kaki yang saya pakai bolong di tengah. Agar tak nampak, saya menutupnya dengan melipat kain bagian atas kaos kaki,” ungkap Marlin.

Bahkan, Marlin sudah terbiasa pulang sekolah berjalan kaki dari sekolahnya di SMA Negeri 1 Karimun. Karena jauh, maka perlu waktu 3 jam untuk sampai ke rumahnya di Baran, tepatnya di belakang Jokotole.

Namun semua ini dia lalui dengan tabah. “Apalagi ibu selalu mengajarkan saya agar hidup sederhana, bersabar dan bila mampu harus selalu membantu orang lain. Jadi gak kaget lagi,” terangnya.

Belakangan kita lihat, Rudi yang kini menjadi orang nomor satu di Batam tersebut, memutuskan berhenti dari Kepolisian dan mencoba menggeluti dunia wirausaha.

Dari nol mereka mencoba. “Kondisi kami saat itu benar-benar seperti tape jatuh, masih ditimpa nangka. Sudah penyet gak karuan (susah),” terang Marlin.

Namun berkat kegigihan, dan semangat kuat, perlahan mereka bangkit. Hingga bisnis yang digeluti Rudi tumbuh.

Di awal 2004 Rudi mencoba terjun ke politik dan kemudian terpilih sebagai anggota DPRD Kota Batam.

Karir politiknya kian moncer, hingga berhasil terpilih sebagai Wakil Walikota Batam berpasangan dengan Walikota Ahmad Dahlan (2011-2016), hingga kian menanjak dan terpilih menjadi Walikota Batam berpasangan dengan Wakil Walikota Batam H Amsakar Achmad periode 2016–2021.

Tak hanya itu, kemudian Rudi ditunjuk Presiden sebagai Kepala Badan Pengusahaan Batam dan dilantik pada September 2019 lalu.

Tentu semua ini tak lepas dari peran Marlin sebagai istri. “Perempuan ini diciptakan multi-tasking. Saya di rumah juga bisa memiliki peran (role) beragam. Bisa sebagai istri, ibu, bahkan teman bagi anak-anak saya,” ujarnya.

Hal ini juga diakui oleh Rudi. “Ibu-ibu adalah penentu keberhasilan suami. Tinggal tergantung ibu saja mau dibawa ke mana suaminya. Apakah mau dia ikut membangun Batam, bisa berguna bagi orang lain, semua tergantung ibu,” terangnya.

Dari kisah ini kita bisa belajar akan semangat dan antusiasme Marlin dalam melayari ujian badai kehidupan. Perjuangan membuat hidup lebih berarti.

“𝘚𝘦𝘣𝘶𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘮𝘢𝘵𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘪𝘱𝘰𝘭𝘦𝘴 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘨𝘦𝘴𝘦𝘬𝘢𝘯, 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘬𝘴𝘦𝘴 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯,” ujar Peribahasa Tiongkok. ***
________
Habis…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © Katabatam.com | Newsphere by AF themes.