𝘒𝘪𝘴𝘢𝘩 𝘎𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘒𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘗𝘦𝘯𝘺𝘢𝘥𝘢𝘱 𝘒𝘢𝘳𝘦𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘉𝘢𝘳𝘢𝘯 (1): 𝗞𝗲𝗽𝗿𝗶𝗵𝗮𝘁𝗶𝗻𝗮𝗻 𝗠𝗲𝗺𝗯𝘂𝗮𝘁𝗻𝘆𝗮 𝗕𝗲𝘀𝗮𝗿

Kabar Baik dari Batam

𝘒𝘪𝘴𝘢𝘩 𝘎𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘒𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘗𝘦𝘯𝘺𝘢𝘥𝘢𝘱 𝘒𝘢𝘳𝘦𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘉𝘢𝘳𝘢𝘯 (1): 𝗞𝗲𝗽𝗿𝗶𝗵𝗮𝘁𝗶𝗻𝗮𝗻 𝗠𝗲𝗺𝗯𝘂𝗮𝘁𝗻𝘆𝗮 𝗕𝗲𝘀𝗮𝗿

2 min read

PAGI baru menyingsing, azan subuh masih di telinga ketika seorang ibu dengan lembut membangunkan putri kecilnya.

“Lin… Nak ikot ambil getah kat Pulau Buru?” ujar si ibu. Sang anak pun merespon dengan menggeliat manja.

Tak lama gadis kecil bernama Marlin Agustina yang masih duduk di bangku sekolah dasar itupun berganjak dari peraduan.

Setelah semua beres anak beranak ini keluar dari rumahnya yang sederhana di Baran, Kecamatan Meral, Kabupaten Tanjungbalai Karimun, menuju Pulau Buru untuk menyadap karet

Pulau Buru tempat perkebunan karet tersebut masih berada di wilayah Kabupaten Karimun, namun untuk menuju ke sana Marlin kecil dan ibundanya, Raja Hamidah, harus menyeberang lautan dengan perahu kayu selama beberapa jam.

Sesampainya di Pulau Buru, Marlin dan ibu masih jalan kaki lagi berapa kilometer, menerabas hutan karet yang sepi di atas jalan tanah merah, seadanya.

Suasana damai. Hanya terdengar suara jangkrik dan kicau burung yang hinggap di dahan pohon. Simponi dari orkestra alam ini bagai hiburan mengisi suasana hati.

Memang tak setiap hari Marlin ikut ibundanya menyadap karet. Biasanya dilakukan pada saat hari libur.

Sebab, menyadap karet memang harus dilakukan pada pukul 04.00 hingga 08.00. Pasalnya, tekanan turgor tertinggi adalah pada rentang waktu 04.00-08.00 itu.

Namun, pada pukul 04.00 suasana masih gelap. Apalagi Pulau Buru di masa itu, sekitar tahun 80-an, tentunya penerangan masih kurang. Belum lagi jarak tempuhnya. Karena itu, penyadapan bisa dilakukan saat hari sudah terang.

“Menyadap karet tidak bisa sembarangan harus tahu tekniknya agar hasil optimal,” jelas Marlin saat wawancara dengan Tim Riset dan Data KataBatam, Rabu (16/9/2020).

Sebelum disadap, jelasnya, pastikan usia tanaman karet sudah matang, mencapai usia lima tahun atau lebih.

“Saya diajar ibu membuat torehan. Jangan terlalu dalam atau terlalu dangkal. Kalau terlalu dalam bisa merusak pohon, tapi kalau terlalu dangkal, getah yang keluar cuma sedikit,” lanjut Marlin.

Setelah getah karet terkumpul, pada tengah hari itu diserahkan kepada pengepul dengan harga yang disepakati.

Hasil dalam tiap penampungan itu biasanya digiling untuk menghasilkan lembar karet dengan ketebalan seragam.

Selanjutnya lembaran-lembaran karet alam tersebut dilakukan proses pengeringan dengan cara dijemur atau dilakukan proses pengasapan dengan kondisi suhu yang diatur.

“Saya sampai hafal prosesnya, dari mulai karet itu masih mentah hingga dia berbentuk seperti adonan roti,” jelas wanita yang kini banyak memegang posisi pimpinan di organisasi kemasyarakatan di Batam ini.

Petang menjelang, Marlin dan ibundanya pun bersiap pulang kembali ke rumah di Baran. Hari itu mereka punya cukup uang untuk menambah kebutuhan sehari-hari.

Hidup bagi Marlin kecil memang tak mudah, namun mereka tetap bersyukur. Pengalaman menyadap karet ini terus dia kenang.

Kelak keprihatinan hidupnya ini menjadi bekalnya saat dewasa hingga akhirnya dia sukses dan kini menjadi wanita berpengaruh di Batam dan Kepulauan Riau.

“𝘑𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘪, 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘥𝘦𝘳𝘩𝘢𝘯𝘢𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘺𝘢𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘥𝘪 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘪𝘯𝘪: 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘢𝘭𝘢𝘮. 𝘋𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢-𝘨𝘢𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. 𝘒𝘦𝘴𝘦𝘥𝘦𝘳𝘩𝘢𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘫𝘶𝘫𝘶𝘳𝘢𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘵𝘶𝘭𝘶𝘴𝘢𝘯,” kata seorang penulis, Pramoedya Ananta Toer. ***
_______
Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © Katabatam.com | Newsphere by AF themes.