Filosofi Fotografi: Coba Perhatikan Gesture HMR saat Mendengar Curhatan Warga Ini

Kabar Baik dari Batam

Filosofi Fotografi: Coba Perhatikan Gesture HMR saat Mendengar Curhatan Warga Ini

2 min read

SEBUAH filosofi fotografi menyebut: One picture is worth a thousand words, atau a picture is worth a thousand words. Artinya, satu gambar bernilai ribuan kata, atau satu gambar setara dengan seribu kata.

Philiphosis Boniek Hallan menulis, ungkapan ini muncul untuk pertama kalinya dalam artikel surat kabar tahun 1911 dengan mengutip editor surat kabar “Tess Flanders” yang membahas tentang jurnalisme dan publisitas.

Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa foto memiliki kekuatan yang lebih dari pada kata-kata. Dengan kata lain ide kompleks dapat disampaikan hanya dengan satu foto.

Kata “foto” sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu photos yang berarti cahaya atau sinar.

Foto berarti potret atau gambar yang dibuat dengan kamera; gambaran; bayangan; pantulan. Secara teknis foto adalah gambar diam yang dihasilkan oleh kamera yang merekam suatu objek,kejadian atau keadaan pada kurun waktu tertentu.

Foto memiliki kekuatan visual. Foto memiliki kemampuan untuk menyampaikan konsep-konsep abstrak nan kompleks.

Foto juga dapat secara instan mengubah suasana hati yang bahagia menjadi sedih, foto juga dapat membangkitkan memori masa lalu.

Seperti foto di atas ini, setiap orang dapat mendeskripsikannya dengan ribuan kata yang berbeda sesuai dengan pengetahuan , memori, kenangan dan pengalaman masing-masing yang berkaitan dengan foto tersebut.

Foto yang kami tampilkan ini didapat ketika H Muhammad Rudi (HMR) bersilaturahmi dengan warga Kampung Bagan, Tanjungpiayu, Kecamatan Seibeduk, Selasa (13/10/2020) pagi.

Saat itu HMR, calon Walikota Batam nomor urut 2 ini, usai bersilaturahmi, ketika tiba-tiba datang ibu-ibu menghampirinya.

Suami Hj Marlin Agustina inipun mengajak si ibu duduk di sisi depan panggung. Dari gesturnya ibu berjilbab tersebut tengah meluahkan curahan hatinya.

HMR pun mendengar dengan penuh empati. Kepalanya sampai tertunduk dalam. Sehingga tak nampak lagi kalau dia adalah orang nomor satu di Batam.

Empati sendiri berasal dari Einfuhlung yang secara harfiah berarti merasa terlibat.

Belasan menit berlalu, HMR masih terus mendengar dengan reaksi yang nyaris tanpa banyak mengimbangi pembicaraannya. Si ibu pun merasa nyaman menumpahkan segala keluh kesahnya.

Dia percaya HMR adalah pemimpin yang tepat untuk diajak berbicara dan kesempatan untuk mengungkapkan masalahnya kepada seorang pendengar yang penuh perhatian, membantunya untuk memperoleh sikap baru atas situasi yang dihadapinya.

Tak sekali ini saja HMR mendengar dengan empati. Dalam catatan kami, hal ini kerap dilakukannya.

Mendengarkan dengan empati juga berarti HMR memberi penghargaan dan membesarkan hati si pembicara.

Seorang pemimpin yang arif sudah seharusnya menjadi pendengar yang memiliki empati terhadap suara rakyat yang didengarnya. Dari sinilah kemudian muncul pemahaman.

Dengan memahami maka masalah yang dihadapi akan dapat diurai dengan baik mulai dari hulu hingga ke hilir sehingga bisa ditunaikan kewajiban apa yang kelak harus dibuat. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © Katabatam.com | Newsphere by AF themes.