Memahami Quick Count dan Real Count: Beda Kerja tapi Hasil Identik

Kabar Baik dari Batam

Memahami Quick Count dan Real Count: Beda Kerja tapi Hasil Identik

3 min read

𝘏𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘲𝘶𝘪𝘤𝘬 𝘤𝘰𝘶𝘯𝘵 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘱 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘰𝘭𝘦𝘮𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘬𝘴𝘢𝘯𝘢𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘜𝘮𝘶𝘮 (𝘗𝘦𝘮𝘪𝘭𝘶). 𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘲𝘶𝘪𝘤𝘬 𝘤𝘰𝘶𝘯𝘵 𝘪𝘯𝘪? 𝘉𝘢𝘤𝘢 𝘺𝘶𝘬, 𝘣𝘪𝘢𝘳 𝘨𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘩𝘢𝘮.

QUICK COUNT dan real count menjadi topik hangat perbincangan masyarakat dalam beberapa pemilu terakhir.
Sebagian peserta pemilu tidak mempercayai hasil quick count atau perhitungan cepat, karena tidak mewakili seluruh suara. Bahkan, ada yang menganggap hasil quick count tidak benar, karena lembaga surveinya bisa dibayar.

Lantas, apa perbedaan istilah quick count dan real count yang kerap menimbulkan polemik saat pemilu? Istilah lain yang juga muncul saat pesta demokrasi adalah exit poll atau survei pasca-pemilu.
Meski ketiga istilah itu berkaitan dengan data hasil pemilu, tetapi metodologi, penyajian data, dan tingkat keakuratannya berbeda.

𝗥𝗲𝗮𝗹 𝗖𝗼𝘂𝗻𝘁
Real count merupakan proses penghitungan keseluruhan surat suara di seluruh TPS yang ada. Real count, dilakukan secara resmi oleh KPU. Karena harus menghitung seluruh suara yang ada, proses real count membutuhkan waktu yang lama, paling cepat dua pekan setelah pemungutan suara selesai.

Meski begitu, masyarakat dapat mengetahui hasil perhitungan sementara, sebelum semua suara yang dihitung secara manual rampung. KPU mempublikasi perhitungan real count dalam situsnya https://pemilu2019.kpu.go.id.

𝗤𝘂𝗶𝗰𝗸 𝗖𝗼𝘂𝗻𝘁
Istilah quick count sudah mulai dikenal pada pemilu 2004. Quick count merupakan perhitungan cepat hasil pemilu.
Prosesnya dilakukan dengan mengumpulkan hasil perhitungan suara di beberapa TPS. Lembaga survei tidak melakukan perhitungan secara keseluruhan, hanya pada beberapa sampel TPS. Penetapan sampel tidak dilakukan secara asal, melainkan dengan kajian matang agar hasil quick count bisa memberikan gambaran keseluruhan TPS dengan akurasi yang tinggi.

Karena dilakukan tidak di semua TPS, perhitungan quick count bisa lebih cepat dari real count yang dilakukan KPU.
Quick count dilakukan oleh lembaga survei independen. Jadi, hasilnya pun tidak ada hubungannya dengan perhitungan yang dilakukan KPU.

Ketua Perhimpunan Survei dan Opini Publik Indonesia (Persepi) Philips J Vermonte mengatakan quick count adalah aktifitas ilmiah dan menggunakan metode yang jelas dan terukur. “Ini adalah aktifitas legal yang diakui secara hukum kepemiluan sebagai bentuk partisipasi,” ujarnya di Jakarta Sabtu, (20/4/2019).

Quick count memang diperbolehkan dalam Undang-Undang Pemilu. Pada pasal 448 disebutkan pemilu diselenggarakan dengan partisipasi masyarakat, di antaranya survei dan perhitungan cepat. Syaratnya, tidak berpihak pada salah satu peserta pemilu dan tidak mengganggu proses pemilu.

𝗪𝗮𝗷𝗶𝗯 𝗗𝗮𝗳𝘁𝗮𝗿 𝗞𝗣𝗨
Lembaga yang ingin melakukan quick count wajib mendaftar ke KPU, paling lambat 30 hari sebelum pemungutan suara.
Mereka juga harus memberitahukan sumber dana dan metodologi perhitungan yang digunakan. Sementara pengumuman hasil quick count hanya boleh dipublikasikan paling cepat dua jam setelah pemungutan suara di wilayah Indonesia bagian barat selesai.

Ketentuan lebih lanjut mengenai survei dan perhitungan cepat ini diatur dalam Peraturan KPU Nomor 20 Tahun 2018.
Masyarakat juga bisa mengadukan dugaan pelanggaran survei dan quick count kepada Bawaslu.

Laporan ini akan menjadi rekomendasi Bawaslu kepada KPU untuk membentuk Dewan Etik atau menyerahkan masalahnya kepada asosiasi yang menaungi lembaga survei.

Jika terbukti melanggar, KPU memberikan sanksi kepada lembaga survei tersebut. Sanksinya bisa berupa pernyataan tidak kredibel hingga sanksi pidana.

𝗘𝘅𝗶𝘁 𝗣𝗼𝗹𝗹
Exit poll berbeda dengan quick count dan real count. Exit poll dilakukan beberapa saat setelah pemilih menyalurkan pilihan politiknya di TPS.

Secara teknis, exit poll merupakan bagian dari survei. Metode yang digunakan dalam exit poll biasanya dengan mewawancarai responden atau pemilih setelah keluar dari TPS.

Exit poll memiliki tingkat kesalahan atau margin of error yang lebih tinggi dari quick count. Sebab, exit poll pada umumnya tidak mewawancarai seluruh pemilih di TPS yang menjadi lokasi survei.

Responden yang ditanya pun biasanya enggan menjawab siapa calon presiden atau peserta pemilu yang dicoblosnya di bilik suara. Ada kemungkinan, jawaban yang disampaikan responden berbeda dengan yang dipilihnya. ***


Sumber: katadata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © Katabatam.com | Newsphere by AF themes.