𝗞𝗲𝗺𝗲𝗻𝗱𝗶𝗸𝗯𝘂𝗱 Nilai Museum Batam Sudah Keren, tapi Harus Ditambah Ruang Konservasi

Kabar Baik dari Batam

𝗞𝗲𝗺𝗲𝗻𝗱𝗶𝗸𝗯𝘂𝗱 Nilai Museum Batam Sudah Keren, tapi Harus Ditambah Ruang Konservasi

2 min read

DIREKTORAT Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menggelar kegiatan standardisasi dan sosialisasi pedoman standardisasi museum untuk Museum Batam Raja Ali Haji, Selasa (20/4). 

Pendamping Kegiatan Standardisasi dan Sosialisasi Pedoman Standardisasi Museum, Siswanto, mengatakan, kontribusi Pemerintah Kota (Pemko) Batam untuk Museum Batam Raja Ali Haji dinilai luar biasa. 

Ia berharap, koleksi terus ditambah dan dilengkapi narasinya sehingga musuem tersebut makin baik.

“Museum era sekarang bukan seperti dulu, asal taruh barang selesai. Harus dikembangkan. Misalnya, ditambah suvenir untuk menandakan turis tersebut sudah datang ke Museum Batam,” katanya. 

Sementara Kurator Museum Purna Bhakti Pertiwi, Gunawan Wahyu Widodo, menyampaikan secara sarana fisik, Museum Batam Raja Ali Haji representatif dan bisa lebih komplet.

Namun diperlukan ruang konservasi yang didukung untuk memastikan koleksi terjaga, menyiapkan tenaga ahli konservator, ada ruang audio visual yang menyajikan informasi inspiratif, serta ruang fasilitas publik untuk memberikan rasa nyaman untuk tempat bersantai. 

“Bisa disediakan kursi nyaman tempat pengunjung duduk untuk merelaksasi,” ucapnya.

𝗔𝗿𝗱𝗶 𝗔𝗸𝗮𝗻 𝗞𝗲𝗺𝗯𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻 𝗠𝘂𝘀𝗲𝘂𝗺 𝗗𝗶𝗴𝗶𝘁𝗮𝗹

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata, menyambut baik kedatangan tim yang mengemban tugas dari Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan Ditjen Kebudayaan, Kemendikbud ke Museum Batam Raja Ali Haji tersebut. 

Menurutnya, hal itu sudah layak karena museum tersebut sudah didaftarkan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama 475 museum lainnya di Indonesia. 

Kemudian, sambung dia, isi dari museum ini, menampilkan sejarah peradaban Batam mulai dari Batam sejak zaman Kerajaan Riau Lingga, Belanda, Temenggung Abdul Jamal, Jepang, masa Kemerdekaan Indonesia, Pemerintah Kabupaten Kepri, Otorita Pertama, era BJ Habibie, Kota Administratif, masuk Sejarah Astaka, Khazanah Melayu, dan infrastruktur atau era Batam sekarang.

“Hari ini (kemarin), Kemendikbud pertama kali menilai Museum Batam Raja Ali Haji apakah digolongkan A, B, atau C,” katanya. 

Ardi akan terus mengembangkan musuem tersebut ke depannya agar menjadi museum berbasis digital. Kemudian, museum ini didukung dengan lokasi yang strategis berada di pusat Kota Batam dekat dengan pelabuhan internasional, hotel, dan pusat perbelanjaan. 

Mantan Humas Pemko Batam ini mengaku akan terus mendorong untuk mengembangkan museum mulai dari koleksi museum sampai atraksi di museum. 

“Museum Batam Raja Ali Haji bersifat universal dan kita akan dorong kedepannya Batam punya museum tematik,” terangnya.

Kota Batam juga memiliki potensi budaya dan pariwisata, atas dasar itu museum ini menggambarkan sejarah tentang Batam. “Kita akan gali terus tentang Makam Temenggung Abdul Jamal dan Nong Isa, karena museum kita tidak akan meninggalkan sejarah,” ucapnya. ***

___________

Sumber: 𝐌𝐞𝐝𝐢𝐚 𝐂𝐞𝐧𝐭𝐞𝐫 𝐁𝐚𝐭𝐚𝐦

Foto: Kadisbudpar Kota Batam Ardiwinata, mengantar Pendamping Kegiatan Standardisasi dan Sosialisasi Pedoman Standardisasi Museum, Siswanto, melihat koleksi Museum Batam Raja Ali Haji.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *