I N S I G H T

Kabar Baik dari Batam

I N S I G H T

1 min read

SESAMA orang hebat biasanya saling mengagumi. Abdul Rozak Fakhruddin, atau dikenal dengan panggilan “Pak AR”, adalah Ketua Umum Muhammadiyah thn 1971 – 1990. Ia sangat mengagumi Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Pun sebaliknya, Gus Dur mengagumi Pak AR.

Suatu hari di bulan Ramadan, Gus Dur mengundang Pak AR ke Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Tiba waktu tarawih, Gus Dur mempersilahkan Pak AR memimpin ribuan jemaah tarawih yang jelas warga NU.

Sebelum mulai tarawih, Pak AR bertanya pada jamaah, “Ini mau tarawihnya cara NU yang 23 atau Muhammadiyah yang 11 rakaat?”

“NU…!!!” Semua jamaah kompak menyahut begitu dengan rasa heroik pada ke-NU-annya dihadapan tokoh besar Muhammadiyah tersebut.

Pak AR mengiyakan saja. Lalu dimulailah salat tarawih.

Cara ngimami Pak AR pelan, halus, kalem, sehingga baru usai 8 rakaat saja durasinya sudah melampaui salat tarawih ala NU pada umumnya.

Pak AR berkata pada jamaah sebelum lanjut takbir utk rakaat berikutnya, “Ini mau lanjut 23 rakaat ala NU beneran?”

Semua jamaah kompak menyahut, “Ala Muhammadiyah saja….!!!”

Pak AR pun menyetujui, diiringi gelak tawa semua orang.

Tuntas salat tarawih dan witir, Gus Dur berkata kepada para jamaah, di hadapan Pak AR, “Baru kali ini ada sejarahnya warga NU di kandang NU di-Muhammadiyahkan secara massal hanya oleh satu orang Muhammadiyah saja.”

Semua orang terkekeh, termasuk Pak AR. ***


Beragam sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *