I N S I G H T

Kabar Baik dari Batam

I N S I G H T

2 min read

HAMPIR tak ada orang terhormat di dunia yang tak menutup kepalanya. Tradisi ini sudah lama dilakukan sejak manusia masih disebut Sapiens. 

Kepala adalah kehormatan. Karena itu wajar jika bangsa-bangsa di seluruh dunia modern saat ini, baik pria dan wanita, memiliki penutup kepala khasnya. Ada yang dibuat dari bulu, kulit, kain beludru atau sulam, hingga emas bertahtakan berlian.

Bahkan hiasan kepala dan topi yang telah menjadi bagian penting dari pakaian tradisional di beberapa daerah di dunia bahkan menjadi ikon negara. 

Di Rusia, misalnya, kita mengenal topi ushanka: topi bulu dengan penutup telinga, untuk melindungi musim dinginnya yang ekstrem. 

Di Meksiko, ada sombreros: topi khas bertepi lebar yang berarti “bayangan” ini, dirancang untuk menyelamatkan orang dari sengatan matahari. 

Bahkan orang-orang India punya penutup kepala dari burung elang, sebagai simbol dari kehormatan dan penghargaan serta harus diraih dengan usaha. Beberapa komunitas memberikan topi tersebut saat anak-anak mereka beranjak dewasa melalui upacara khusus.

Ada lagi turban, yang sudah ada dari zaman Kerajaan Mesopotamia. Bahkan penutup kepala dari lilitan kain ini sudah ditemukan di patung kerajaan tersebut pada 2.350 SM. Ini menjadi bukti bahwa turban muncul sebelum lahirnya agama-agama Abrahamic (Yahudi, Kristen dan Islam.

Bagiamana dengan Indonesia? 

Dengan beragam budayanya, negeri ini punya banyak jenis penutup kepala. Dalam budaya Melayu, kita mengenal tanjak, di Jawa ada blangkon, dan seterusnya.

Sejak dulu, laki-laki di Indonesia, khususnya, memang terbiasa menutup kepala dengan ikat kepala. 

Tanpa tutup kepala, seorang laki-laki dianggap tak jauh beda dengan orang telanjang. Tutup kepala adalah bagian dari kesopanan.

Hingga saat ini kita mengenal peci, songkok atau kopiah, sebagai “penutup kepala nasional”. 

Menurut Rozan Yunos, dalam artikelnya The Origin of the Songkok or Kopiah di The Brunei Times (23/09/2007), peci diperkenalkan oleh pedagang-pedagang Arab yang menyebarkan agama Islam.

Rozan juga menyebut beberapa ahli berpendapat di Kepulauan Malaya peci atau kopiah ini sudah dipakai pada abad XIII. Setelah dipopulerkan para pedagang Arab itu, baru orang Malaysia, Indonesia dan Brunei mengikutinya.

Baru pada awal abad XX orang Islam di Indonesia beramai-ramai pakai peci. Dalam perjalanannya, peci dianggap sebagai identitas Islam.

Peci ikut mewarnai sejarah Indonesia. Banyak tokoh pergerakan nasional setelah tahun 1920an mengenakan peci. Muhammad Husni Thamrin, yang sejak 1927 terpilih sebagai anggota Volksraad (Dewan Rakyat), menghadiri sidang dengan kepala tertutup peci. 

Belakangan, Bapak Bangsa, Hadji Oemar Said Cokroaminoto pun berpeci. Hal ini kemudian ditiru oleh anak kosnya, sang Proklamator Soekarno.

Hingga usia senjanya, Soekarno terus memakai peci hitamnya. Peci membuat Soekarno terlihat gagah dalam foto-foto yang banyak beredar. 

Demikian juga tampak pada tokoh-tokoh Indonesia lainnya. Tradisi berpeci ini lestari hingga kini. Barangkali sosok laki-laki Indonesia sejati adalah yang berpeci. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *