ESENSI komunikasi itu bukan apa yang disampaikan, melainkan apa yang ditangkap oleh orang lain. Jadi tak segampang yang dikira. Sebab, area errornya sangat tinggi.
Untuk itu sebelum bicara, pahami dulu bagaimana karakteristik audience-nya. Misal sosial, budaya, tingkat pendidikan dan situasinya. Sehingga, komunikasi yang dilakukan bisa lebih efektif.
Akan lebih dahsyat lagi jika kita memahami psikologi dari lawan bicara kita. Psikologi dan komunikasi memang disiplin ilmu yang berbeda, tapi sejatinya terkait.
Hal inilah yang dikawinkan cendekiawan asal kota bandung, Jalaluddin Rakhmat, salah satu karya yang paling legendaris adalah buku psikologi komunikasi yang menjadi bahan ajar dan rujukan civitas perguruan tinggi.
Secara singkat, di dalam buku tersebut Kang Jalal, sapaannya, menjabarkan kaitan karakteristik manusia dilihat dari aspek psikologi dalam konteks komunikasi.
Buku ini menjadi menarik karena Kang Jalal bisa menjabarkan sisi psikologi manusia sebagai pelaku komunikasi.
Sekali lagi, sebelum bicara pahami dulu siapa lawan bicara kita. Pahami psikologisnya, apa ketakutan, impian bahkan ambisi terdalamnya. Dengan demikian bukan hanya pesan yang disampaikan dapat ditangkap efektif, tapi juga kita bisa mengendalikan lawan bicara kita. Bahkan memenangkan hatinya.
Ibarat kata peribahasa, “Masuk kandang kambing mengembik, masuk kandang kerbau menguak.”
Bagaimana menurut Anda? (ski)






