ILMU atau sains itu adalah pengetahuan yang di-ilmiah-kan. Hitungannya harus jelas dan logis. Karena itu memiliki lima ciri pokok, yaitu; empiris, sistematis, obyektif, analitis, dan verifikatif.
Berbeda dengan “hanya” pengetahuan. Tak perlu pembuktian yang rumit. Cukup diyakini atau dipercaya saja. Beres.
Masalahnya otak manusia –kalau tak diarahkan– tidak terlatih analitis dan verifikatif. Sapiens lebih memerlukan kecepatan bereaksi, bukan konfirmasi segala asumsi.
“Pada umumnya kalau punya keyakinan, otak akan mencari pembenaran atas keyakinan itu, bukannya mempertanyakan jangan-jangan keyakinan itu salah,” ujar pakar neurosains Indonesia dr Ryu Hasan.
Misal saat melihat sesuatu, otak terlebih dahulu akan melakukan reaksi. Misal menilai baik atau buruk, indah atau jelek, suka atau benci, dan seterusnya. Selanjutnya, barulah mencari alasan pembenarannya.
Alurnya dimulai mencari pola, kemudian secara cepat menghubungkan fakta-fakta yang disukai. Sekali lagi yang disukai. Semua dipengaruhi oleh lingkungan pergaulan.
Sejak dulu hingga saat ini, semua hal tersebut tertanam dalam otak emosi kebanyakan sapiens, atau yang lebih sering disebut naluri. Menjadi ingatan (memori) genetik.
Mengapa seperti itu? Karena secara evolusioner, otak sapiens umumnya memang terbentuk untuk mengembangkan teori konspirasi. Selain itu menimbukan rasa nyaman, juga memberi manfaat survival (keselamatan dan keberlangsungan).
Maka jangan heran mengapa tingkat literasi dan berpikir kritis rata-rata manusia rendah. Mungkin karena hal ini jua kita dilarang berburuk sangka. Supaya tak menghukum orang dengan perbuatan yang tak dia lakukan. Inilah yang dimaksud adil sejak dalam pikiran.
Bagaimana menurut Anda? (ski)
INSPIRASI PAGI: Kebenaran, Pembenaran






