INSPIRASI PAGI: Batam, Benelux, Singapura

BANYAK yang ragu saat Presiden Prabowo Subianto, ingin menjadikan Batam sebagai “Singapura”-nya Indonesia. Dulu di tahun 1963, orang juga ragu saat Lee Kuan Yew, bertekad menjadikan Singapura pusat lalu lintas dunia.

Dibanding menjadikan Batam seperti New York, Paris atau London, tentu lebih memungkinkan membuat Batam bagai Singapura. Keduanya masih punya Asian value. Jaraknya juga dekat; sekitar 20 kilometer atau 12,4 mil laut.

Kemiripannya juga banyak. Seperti, berada di kawasan yang sangat strategis di Selat Melaka, yang menjadi jalur pelayaran internasional. Penduduk, budaya dan bahasanya juga memiliki akar yang sama.

Selain itu, Singapura adalah negara dengan investasi terbesar di Batam. Nilainya pada 2023, sebesar USD 366,47 juta atau setara Rp5,42 triliun. Artinya, kerja sama ekonomi sudah sangat baik.

Belum lagi, sejak awal dibangun oleh Profesor BJ Habibie, Batam memang didesain untuk menarik ekonomi perdagangan dan pariwisata dari Singapura melalui “Teori Balon”. Konsep ini ia adopsi dari Benelux (Belgia-Netherlands-Luxemburg).

Maka dibangunlah enam jembatan untuk menghubungkan pulau Batam, Rempang, Galang (Barelang) dan pulau-pulau kecil di sekitarnya seperti Tonton, Nipah, Setokok, dan Galangbaru.

Konsep ini pertama kali Habibie kemukakan di hadapan Menteri Senior Singapura Lee Kuan Yew, dan di sambut baik. Maka aneh, jika banyak yang kini merasa heran jika ada ide menjadikan Batam sebagai Singapura-nya Indonesia.

Yakinlah, bahwa negara kita punya semua potensi untuk jadi besar. Asalkan jangan salah urus, salah arah, dan salah prioritas. Itu saja yang harus kita pantau bersama, agar tak jadi bahan tertawaan.

Bagaimana menurut Anda? (ski)

BACA JUGA:  Penilaian Berbasis Komputer, 812 Calon PPPK Guru Mulai Ujian, Jefridin: No KKN!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *