JAUH sebelum ada hiruk pikuk media sosial, pada 400 tahun sebelum Masehi, di Yunani sana, Aristophanes, dramawan Yunani kuno (mungkin bisa disebut sutradara kalau zaman ini), membuat sebuah pementasan drama komedi berjudul “Nephelai” (awan).
Kala itu, sebelum ada film, drama selalu digunakan oleh para filsuf sebagai media untuk mengisahkan filsafatnya.
Hal ini juga dilakukan hingga di era moderen, mulai Friedrich Nietzsche hingga Rendra. Bahkan di Jakarta sendiri ada Komunitas Salihara yang rutin mementaskan drama filosofi ini.
Mengapa drama? Karena kekuatan drama bisa mentransformasikan atau mempengaruhi kepribadian orang-orang yang menonton, dengan pesan atau kisah yang disampaikan hingga pada akhirnya bisa mengubah masyarakat.
Kalau ditarik pada kekinian adalah, bagaimana kekuatan “Rambo” menutup aib kekalahan Amerika di Vietnam.
Kembali lagi pada Aristophanes, ketidak sukaannya pada kaum sofis inilah yang dia sindir dalam drama komedinya, sayangnya yang dia tembak adalah filsuf tulen, Socrates (Filsuf dari Yunani 469 SM – 399 SM).
Di sana dia kisahkan tentang orang tua yang mengaku paling bijak sambil menipu anak-anak muda.
Socrates sendiri dicitrakan sebagai orang yang suka mondar mandir tak jelas, bahkan dipentaskan berada dalam sebuah keranjang besar yang digantung sambil memandang awan, dengan dikelilingi murid-muridnya.
Gara-gara drama komedi inilah yang kemudian berujung tragedi. Bahkan Plato menganggap, gara-gara drama Aristophanes inilah, 10-20 tahun kemudian, Socrates dibawa ke pengadilan dan dihukum mati dengan meminum racun (cemara).
Dari sini kita belajar agar hati-hati melempar tuduhan pada orang lain. “Ketika kalah dalam debat, fitnah menjadi alat bagi pecundang,” ujar Socrates. ***
_______
Foto: ilustrasi
