DUNIA YANG kita tempati saat ini sudah tak memberi ruang kepada aktivitas print. Bahkan, tak disadari di tahun 2021 ini kita sudah memasuki disrupsi fase keempat: perubahan revolusioner cara bertransaksi dan mempersepsi sebuah nilai.
Dimulai tahun 1990-an hingga pertengahan 2000-an. Di fase ini, manusia berlomba-lomba untuk terhubung ke internet. Ini disebut fase koneksi. Selanjutnya, fase informasi. Terjadi selama tahun 2000an.
Tak lama kemudian muncul fase interaksi, sejak akhir 2000-an hingga 2015. Revolusi mobile memungkinkan manusia terhubung secara sangat intens. Dipicu kehadiran Nokia dan Blackberry.
Disrupsi level ini menghadirkan beragam platform media sosial, dari Twitter, Facebook, Youtube, Instagram, Tinder, hingga Tiktok. Sebagian besar pengguna internet hidup pada fase ini.
Keempat adalah fase transaksi, di mana internet menjadi sesuatu yang berharga, sumber mata pencarian, dan tempat mendulang uang. Fase ini sering disebut sebagai “internet of value.”
Revolusinya dimulai pada paruh pertama dekade kedua era milenium, dengan Bitcoin. Teknologi blockchain memungkinkan manusia melakukan interaksi secara terdesentralisasi (DeFi), melakukan eksekusi secara cerdas (smart contract), dan membuka berbagai kemungkinan dengan beragam operasi (interoperability).
Mengetahui fase-fase disrupsi ini penting, agar kita tahu dan sadar saat ini sedang berada di mana. ***
Dilengkapi sumber tulisan Luthfi Assyaukanie
