IN2PIRASI PAGI: Debat, Politik & Sesat Pikir

MENARIK mengamati debat para pasangan calon kepala daerah di Provinsi Kepulauan Riau. Ini adalah suatu momentum bagi pasangan calon untuk berkampanye secara programatik.

Sebaliknya keuntungan bagi kita: rakyat, dapat melihat gagasan dan program apa saja yang akan ditawarkan pasangan calon. Bahkan jika mau lebih dalam lagi, kita bisa menakar intelektual, mindset, hingga kesehatan mental sang calon.

Namun tetap waspada, karena dalam ajang debat seperti ini, sering terjadi sesuatu pikir atau logical fallacy. Ini bahaya. Sebab, kesalahan dalam sebuah penalaran, akan membuat salah dalam menyimpulkan masalah. Hasilnya keluar dari fokus bahasan.

Adakalanya, logical fallacy ini sengaja dipakai dalam debat, sebagai indikasi kesan menipu kepada orang lain. Namun ada juga yang memang terjadi karena intelektual yang berdebat memang kurang.

Logical fallacy ini ada 24 macam. Namun yang sering kita temui adalah, ad hominem, di mana argumen dibalas sentimen kepada pribadi. Selanjutnya “false dilemma”. Cara ini sering dipakai di dunia politik untuk menarik dukungan. Agar diri tampak sebagai pahlawan. Dan lain-lain.

Logical fallacy sering tak disadari dalam debat, karena peserta dituntut menjawab secara cepat (fast respons). Itulah pentingnya berhati-hati dalam menghadapi setiap argumen yang dilontarkan oleh orang lain. Solusinya bagaimana?

Untuk menakar apakah argumen berdiri di atas dasar yang kuat atau hanya ilusi dengan menggunakan “Six Type of Socratic Question”.

Caranya fokus pada asumsi. Jangan ditelan mentah-mentah, apalagi menggeneralisasi sesuatu. Selalu bicara atau pertanyakan argumen atau sumber informasinya dengan berbasis data dan fakta atau bukti. Dengan begitu kita akan selamat. Minimal tak gampang dibodoh-bodohi orang.

Bagaimana menurut Anda? (ski)

Exit mobile version