News  

INSPIRASI JUMAT: Kyai Cinta

NAMA LENGKAPNYA Abdul Razaq Fachruddin (14 Februari 1915 – 17 Maret 1995), biasa dipendekkan menjadi “AR Fachruddin”, dan disapa Pak AR. Namanya besar, tak hanya milik Muhammadiyah, tapi juga milik umat Islam.

Hebatnya lagi, Pak AR mampu menempatkan diri di berbagai rezim. Baik di era Soekarno hingga era Soeharto. Namun tetap merakyat, sederhana, sehingga membuat semua orang kagum.

Emha Ainun Najib pernah menulis tentang Pak AR : “ Pernahkah Anda membayangkan ada seorang pemimpin organisasi besar –yang anggotanya berpuluh-puluh juta– mencari nafkah “hanya” dengan cara menaruh beberapa dirigen minyak tanah dan bensin untuk dijual di depan pagar rumahnya?”

Emha menambahkan, “Di tengah era di mana seorang kiai bisa menjual kekiaiannya, seorang pemimpin bisa mengkomoditikan kepemimpinannya, serta di mana seorang penggenggam massa mengecerkan akses-aksesnya—kata apakah yang sebenarnya bisa kita ucapkan kepada Pak AR yang bersih dari semua itu?” Cak Nun menyebutnya “Kiai Cinta”.

Saat ia menjadi penasihat presiden sekalipun, di masa Soeharto ia lebih memilih memakai motor bututnya daripada menerima mobil dari istana waktu itu.

Sampai akhir hayatnya Pak AR tak memiliki rumah sendiri meski telah diusahakannya. Sikapnya yang sederhana ini meninggalkan kesan mendalam di hati umat.

Ia adalah Kiai yang tak melek sekalipun dengan harta benda, apalagi kekuasaan. Ia adalah Kiai yang luwes tapi mampu menempatkan diri sebagai pemimpin yang bijak.

Bagaimana menurut Anda? (ski)
____
Referensi:
Kolom Arif Saifudin Yudistira

Exit mobile version