“EVIL brings men together,” kata Aristoteles. Filsuf Yunani kuno tersebut menyoroti, bagaimana orang-orang dapat bersatu, membentuk kelompok, atau bekerja sama karena adanya bahaya dan ketakutan akibat tindakan kriminal atau kejahatan di sekitar mereka.
Gambaran inilah yang kita saksikan saat masyarakat Kota Batam, merespons maraknya aksi pencurian dengan pemberatan (curat) terhadap berbagai infrastruktur publik yang dilakukan komplotan pelaku yang dikenal dengan sebutan “rayap besi”.
Tanpa melihat perbedaan, warga, juga netizen, bergandengan tangan, menyatukan upaya untuk menyelamatkan kota. Apalagi pelakunya sudah kian terang-terangan: tak lagi menunggu malam, gelap, dan hati-hati, juga saat matahari terbit dan di depan banyak orang.
Keresahan ini bukan semata soal harga barang yang dicuri, tapi dampaknya yang sangat masif diderita masyarakat. Sebab, sasarannya adalah simpul penting pada sistem syaraf fasilitas umum, hingga perumahan. Antara lain:
Besi pelabuhan, komponen Jembatan Barelang, jembatan penyeberangan orang (JPO), kabel listrik perumahan, papan informasi, rambu lalu lintas, hingga baterai halte. Ditambah lagi, lampu lalu lintas, kabel menara telekomunikasi, kabel penerangan jalan umum (PJU), besi drainase, trafo listrik, hingga meteran air.
Akibat aksi ini, kota sering “stroke” mendadak. Jalanan gelap, lalu lintas kacau, belum lagi kerugian warga akibat harus membeli lagi meteran air. Estetika kota juga hancur.
Wali Kota Batam H Amsakar Achmad, dan Wakil Wali Kota Batam Li Claudia Chandra, bekerja siang dan malam untuk membangun, memperbaiki, dan menghadirkan fasilitas yang lebih baik bagi Kota Batam.
Maka itu, seperti kata Amsakar,vaksi solidaritas dan keterlibatan seluruh pihak (warga, Forkopimda, dan pedagang besi tua), sangat diperlukan untuk memutus mata rantai kejahatan tersebut. Sehingga hasil pembangunan dapat terus dirasakan.
Bagaimana menurut Anda? (riza)
INSPIRASI PAGI: Bersatu Jaga Batam
