INSPIRASI PAGI: Idealis, Empiris, Dogmatis

LEBIH baik mana orang yang berpikir dogmatis atau empiris? “Si kutu buku” yang fasih merapal teori, atau “orang lapangan” yang bicara berdasar praktik?

Mari kita dengarkan pendapat Mao Zedong, melalui buku “Praktek dan Kontradiksi”. Mao menunjuk masalahnya, bukan pada individu, melainkan pada kebiasaan berpikir yang salah. Gagasannya jelas: Ia menuntut keutuhan. Menghalau cara berpikir idealis, empiris, dan dogmatis yang menghambat kemajuan.

Bayangkan, seorang cendekiawan yang hafal setiap bab buku, namun tak pernah menginjakkan kaki di lapangan. Si “Orang Buku”, mudah jatuh ke dalam kesalahan dogmatis. Mereka terhenti di teori.

Saran Mao, mereka harus meninggalkan menara gading mereka dan terjun ke dalam praktik. Hanya dengan begitu, pengetahuan mereka akan teruji dan menjadi hidup.

Di sisi lain, ada “orang lapangan” yang berpengalaman, tangkas, dan hidup dari praktik. Namun, mereka juga memiliki kelemahan fatal: cenderung menganggap pengalaman parsial mereka sebagai kebenaran umum.

Menurut Mao, ini adalah kesalahan empiris. Mereka menolak teori, mengira pengalaman pribadi sudah cukup. Maka, mulailah sungguh-sungguh membaca buku dan belajar di bidang teori. Agar pengalaman mereka yang tercecer dapat disusun secara sistematis dan sintesis, meningkatkan pengalaman parsial mereka menjadi teori yang valid.

“Dengan demikian barulah mereka tidak salah menganggap pengalamannya yang parsial itu sebagai kebenaran umum; tidak membuat kesalahan empiris,” tulisnya. Di sinilah letak revolusi pemikiran Mao.

Bagaimana menurut Anda? (ski)

> Referensi: Balai Buku Peogresif

Exit mobile version