INSPIRASI PAGI: Menakar Kebebasan

“KEBEBASAN apa yang masih kurang? Orang memaki-maki presiden, menghina presiden, mengejek presiden, mencemooh presiden juga tiap hari kita dengar,” kata Presiden Jokowi dalam dalam sebuah video wawancara yang diunggah di akun Twitter @Jokowi, Selasa (23/8/2023) lalu.

Ia pun mempertanyakan kebebasan bicara apa lagi yang diinginkan masyarakat. Pasalnya, ia menilai saat ini demokrasi Indonesia sudah terlalu liberal.

Demokrasi itu baik, tapi ingat, sebenarnya tidak ada kebebasan mutlak di dunia ini, di mana orang dapat memaki orang dengan sebebas-bebasnya.

Kebebasan kita tetaplah dibatasi oleh kebebasan orang lain. Makanya ada undang-undang. Karena kebebesan yang baik adalah yang menghormati orang lain, tidak membuat onar.

Ingat dan pahami bahwa tidak akan mungkin kita dapat membangun, memperbaiki dan merawat bangsa, bahkan Batam atau Kepulauan Riau ini, dengan mengumbar narasi kebencian.

Apa lagi sebenarnya tidak ada kesalahan, tapi diframing seolah-olah orang lain itu salah dan jahat, hanya karena alasan subjektif.

Misalnya hanya karena tak menguntungkan atau tak sesuai dengan kemauan dan kepentingan pribadinya, maka orang lain dicap salah dan jahat. Memangnya situ siapa bisa menentukan baik dan buruknya seseorang?

Bagaimana menurut Anda? (ski)

Exit mobile version