JELAS BUKTINYA: Wali Kota Batam/Kepala Badan Pengusahaan Batam H Muhammad Rudi (HMR), berbicara dalam sebuah acara. Selama kepemimpinannya, kinerja HMR jelas. Baik prestasi, hingga legacy.
BARU-BARU ini muncul di media sosial, ada orang dengan percaya diri mengoreksi kinerja orang lain yang jauh di atasnya. Ibarat pepatah, “bagai mengajar ikan berenang.”
Mengoreksi boleh saja, asal lakukan dengan argumentasi yang runtut. Jangan langsung lompat ke kesimpulan, dengan pola pikir terbatas hanya pada dua variabel. “Kalau tak begini berarti begitu”.
Kalau dalam ranah Taksonomi Bloom, jenjang keterampilan berpikir semacam ini masih di level pertama. Selengkapnya ada enam level, yaitu: C1, mengingat. C2, memahami. C3, menerapkan. C4, menganalisis. C5, mengevaluasi. C6 mengkreasi/menciptakan.
Kalau langsung pukul rata, lompat ke kesimpulan tanpa melalui pemahaman bahkan analisa konsep menjadi beberapa komponen, maka tidak akan mendapatkan pemahaman lebih komprehensif tentang dampak komponen-komponen tersebut kepada keseluruhan konsep.
Lalu, mengapa saat ini banyak muncul para “pakar” dadakan, seperti orang di atas? Tom Nichols, dalam bukunya menyebut hal ini sebagai efek Dunning-Kruger.
Yakni: suatu bias kognitif saat seseorang yang tak punya kemampuan yang cukup, mengalami superioritas ilusif. Yaitu merasa kemampuannya lebih hebat dibanding orang lain pada umumnya.
Mirisnya, mereka yang sering mengoreksi orang lain seperti yang di atas tadi, kelakuannya sering juga dikeluhkan masyarakat. Kinerjanya tak jelas, nepotisme, legacy-nya minus, bahkan suka janji-janji, tapi diingkari. Sudahlah bodoh, percaya diri pula.
Bagaimana menurut Anda? (ski)
