TAK banyak yang tahu jika Muhammad Hatta, atau Bung Hatta, Wakil Presiden RI pertama, sangat tertarik pada filsafat. Dari sini, ia menulis “Alam Pikiran Yunani”, buku pertama yang sekaligus dijadikan mahar oleh Bung Hatta ketika ingin menikahi ibu Rahmi.
Di buku ini, Bung Hatta membagi pemikiran filsafat Yunani menjadi delapan. Yakni: Filsafat Alam, Filsafat Herakleitos, Filsafat Elea, Filsafat Pythagoras, Neo Filsafat Alam, Filsafat Sofisme, dan Filsafat Klasik.
Kenapa Bung Hatta memandang penting untuk mempelajari filsafat Yunani? Setidaknya ada dua alasan.
Pertama, filsafat perlu dipelajari untuk menajamkan pikiran dan memperluas wawasan. Filsafat merupakan mother of knowledge yang menjadi “pintu gerbang” untuk mempelajari dan mengerti ilmu-ilmu lain dengan lebih mudah.
Kedua, filsafat Yunani merupakan awal mula dari peradaban Barat. Pemikiran filsafat Yunani selama ribuan tahun memberikan sendi-sendi “wajah” peradaban Barat terutama dalam hal pemikiran politik dan pemerintahan.
Rasionalisme dan intelektualisme yang mewarnai kehidupan peradaban barat juga diawali dari tradisi pemikiran filsafat Yunani ini.
Sampai saat ini banyak pemikiran-pemikiran terutama dalam ranah sosial, politik, dan hukum yang masih menjadikan pemikiran ini sebagai benchmark gagasan-gagasan mengenai kenegaraan.
Sebut saja Plato, pemikirannya tentang negara masih dijadikan referensi dalam pemikiran politik Barat yang masih sangat relevan untuk didiskusikan.
Selain itu, secara praktis dengan mempelajari filsafat kita diharapkan dapat melihat suatu hal atau fenomena menjadi lebih kritis, tajam, dan mengedepankan rasionalitas.
Bagaimana menurut Anda? (ski)
> Disarikan dari tulisan Catur Alfath Satriya, “Alam Pikiran Yunani: Sebuah Review Karya Mohammad Hatta”






