ADA beberapa hal menarik saat mengkaji kelakuan seorang oknum ASN provinsi yang merendahkan seorang kepala daerah dengan kalimat peyoratif di media sosial.
Selain pelakunya berstatus “ASN” yang memiliki aturan khusus bermedia sosial, orang tersebut juga bukan bawahan bahkan warga sang kepala daerah.
Lalu atas dasar apa dia merendahkan? Banyak spekulasi yang beredar. Namun apapun alasannya, merendahkan orang tak dibenarkan dalam etika dan moral masyarakat, humaniora, apalagi agama.
Apalagi jika dilihat secara pencapaian, prestasi, dan sosio ekonomi, oknum ini jauh di bawah sang kepala daerah. Tapi begitulah manusia. Ada yang suka membandingkan dan mencari kekurangan. Orang-orang yang sudah luar biasa, masih dicari-cari kejelekannya.
Kalau tak ditemukan kejelekan mutlak, dicari kejelekan relatifnya dengan membanding-bandingkan. Dengan diri sendiri? Bukan, tapi dengan orang lain.
Daripada sibuk mencari kekurangan orang lain, mending perbanyak introspeksi dan kontemplasi; apa iya kita begitu hebat dan sempurna, sehingga pantas menyombongkan diri di muka bumi?
Dengar nasihat Syaidina Ali bin Abi Thalib, “Singkirkan kebanggaanmu, turunkan kesombonganmu, dan ingatlah kuburmu.”
Bagaimana menurut Anda? (ski)
