SEJAK dahulu, praktik pengucapan sumpah saat pelantikan pejabat publik sudah lazim dilakukan. Hal ini berakar dari sejarah panjang dan memiliki makna konstitusional, spiritual, serta etis. Begitu juga di Kepulauan Riau (Kepri) ini.
Mari kita belajar dari sejarah. Dahulu, wilayah administratif Provinsi Kepri sekarang ini, adalah kekuasaan kerajaan Riau Lingga yang dirampas Belanda melalui Perang Riau 1784.
Negeri ini didirikan Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah, tahun 1722, dengan bantuan bangsawan Bugis Upu upu Lima Bersaudara (Daeng Perani Bersaudara), sebagai penerus Kerajaan Melaka dan Johor, bagian dari lmperium Melayu, yang eksis di rantau Melayu ini sekitar delapan abad.
Ketika Daeng Marewa dilantik sebagai Yang Dipertuan Muda Riau (1721-1729) dengan bergelar Kelana Jaya Putera, ia mengucap sumpah di hadapan Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah, yang abadi dan mengikat hingga kini.
“Yakinlah Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah ibni Sultan Abdul Jalil. Akulah Yang Dipertuan Muda yang memerintah kerajaanmu. Barang yang tiada suka membujur di hadapanmu, aku lintangkan. Barang yang tiada suka melintang di hadapanmu, aku bujurkan. Barang yang semak berduri di hadapanmu, aku cucikan!”
Artinya, Daeng Marewa sadar benar, betapapun dia hebat, perkasa dan berkuasa serta memegang angkatan perang, dia hanya seorang Raja Muda. Yang tunduk pada Sultannya. Hitam kata Sultan, ya hitamlah. Begitu kiga sebaliknya.
Dari powerfull-nya, menurut budayawan Melayu juga tokoh wartawan Nasional dari Kepri, Rida K Liamsi, sumpah politik itu berlaku sampai ke anak cucu, abadi sampai kini yang dikenal sebagai “Sumpah Setia Melayu Bugis”.
Sumpah setia untuk berbagi kekuasaan, dan sumpah setia untuk tidak saling berkhianat. Ibarat mata kiri dan mata kanan. Itulah tamsil yang menjadi pedoman dalam mengatur kekuasaan, siapapun yang kemudian menjadi penguasa di negeri ini di kemudian hari.
Yang melanggar dan berkhianat, tulis Datuk yang pernah merajai media massa di Sumatra ini, akan kualat dan akan menerima padahnya. Dimakan sumpah besi kawi. Begitu kata sejarah. Begitu kata tuah dan petuah di negeri ini, negeri yang oleh pihak Melayu dan Bugis dinamakan “Segara Sakti, Rantau Bertuah”.
Bagaimana menurut Anda? (ski)
______
> DISARIKAN dari tulisan: “Belajarlah dari Sejarah” oleh Rida K Liamsi
INSPIRASI PAGI: Sumpah & Jabatan
