INSPIRASI PAGI: Teman Tetaplah Teman

FOTO: Ilustrasi

ADA sebuah ungkapan yang berbunyi, “musuh dari musuhku adalah temanku.” Ungkapan ini berasal dari peribahasa kuno yang konon sudah ada sejak abad ke 4 SM, dalam risalah Sansekerta. Versi Inggrisnya baru muncul di tahun 1884.

Bahkan Ali Bin Abi Thalib ra, dalam Nahjul Balaghoh, juga pernah menyebutkan. Secara lengkap beliau mengatakan,” Temanmu ada tiga: temanmu sendiri, temannya temanmu, musuhnya musuhmu. Musuhmu ada tiga: musuhmu sendiri, musuhnya temanmu, temannya musuhmu.”

Terkait ungkapan “musuh dari musuhku adalah temanku” ini, ada beberapa hal yang dapat disorot di sini. Yakni, sebuah sikap tidak berdasarkan prinsip sendiri, alias ikut-ikutan demi solidaritas teman, atau hanya memanfaatkan kerja-sama untuk keuntungan masing masing untuk memperkuat competitive-edge (keunggulan persaingan).

Namun ingat, hanya karena kita tak suka kepada seseorang, tidak lantas semua musuhnya adalah teman kita. Sebab, belum tentu juga mereka suka pada kita.

Bagaimana kalau mereka juga membenci kita? Cuma sekarang hanya memanfaatkan kita untuk ikut menghancurkan musuh utamanya? Setelah berhasil, kitalah yang kemudian dihancurkan hingga tak bersisa.

Bagaimana menurut Anda? (ski)

Exit mobile version