News  

INSPIRASI RAMADAN: Bahasa Pemersatu

PERANG Yarmuk, antara Muslim Arab dan Byzantium (Romawi Timur) pada tahun 636 Masehi, dicatat sebagai salah satu pertempuran penting dalam sejarah dunia, yang menandakan gelombang besar pertama penaklukan Muslim di luar Arab, dan cepat masuknya Islam ke Palestina, Syiria, dan Mesopotamia.

Timur Tengah yang ditaklukkan pasukan Muslim dalam dekade awal ini adalah masyarakat multikultural. Dunia di mana bahasa dan agama yang berbeda, hadir bersama dan berbaur di wilayah yang sama secara geografis.

Hugh Kennedy, dalam buku “The Great Arab Conquest” menulis, setelah suksesnya penaklukan ini, bahasa yang dipergunakan oleh kaum elite baru ini adalah bahasa Arab.

Meski untuk urusan pemerintahan, bahasa administratif yang berlaku sebelumnya—bahasa Yunani di Syria dan Mesir, bahasa Persi Tengah (Pahvali) di Irak dan Iran, bahasa Latin di Spanyol— terus digunakan untuk segala urusan pemerintahan.

Namun, setelah beberapa generasi, hal ini mulai berubah. Sekitar tahun 700 Masehi, enam puluh tahun lebih setelah penaklukan paling awal, Khalifah Umayyah Abdul Malik (685-705) di Damaskus memutuskan, bahasa Arab dan hanya bahasa Arab, yang digunakan dalam pemerintahan (bahasa persatuan). Keputusan ini efektif.

Sejak saat itu, siapa pun yang menginginkan posisi dalam birokrasi yang terus berkembang di negara Islam ini, apakah mereka bangsa Arab atau non-Arab karena keturunan dan pengasuhan, harus mampu membaca dan menulis dalam bahasa Arab.

Inskripsi dalam mata uang gaya baru yang bebas gambar serta rambu-rambu jalan semuanya tertulis dalam bahasa Arab. Sehingga tak ada gunanya bagi masyarakat mempelajari bahasa Yunani atau Pahlavi karena tidak akan ada kesempatan karier di sana.

Di sekitar era itulah, abad kedelapan awal, tradisi bahasa Arab dalam penaklukan mulai dikumpulkan dan ditulis. Termasuk sejumlah peristiwa monumental di abad ketujuh. Mengambil pelajaran di masa lalu, & jadikan motivasi untuk masa yang akan datang.

Bagaimana menurut Anda? (ski)

Exit mobile version